Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 30 September 2026.
Estimasi durasi: 5 menit.
Di kedalaman perenungan manusia tentang Tuhan, sering kali terbentang sebuah paradoks yang sunyi: manusia ingin mendekati Yang Tak Terbatas dengan alat yang serba terbatas. Kata-kata dilahirkan, nama-nama diucapkan, doa-doa dipanjatkan, tetapi semua itu sesungguhnya hanyalah perahu yang menyeberangkan kesadaran menuju samudra yang tak mungkin dimuat oleh bahasa. Seperti tulisan “api” yang tidak pernah menghasilkan panas dan kata “lautan” yang tidak pernah menghadirkan ombak, demikian pula nama Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri. Nama adalah cahaya penunjuk jalan, bukan tujuan perjalanan. Dalam pemahaman semiotik dan filsafat agama, tanda atau simbol berfungsi untuk mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang berada di luar dirinya. “Bahasa keagamaan berfungsi sebagai sarana pengenalan terhadap realitas transenden, bukan sebagai realitas transenden itu sendiri” (Alston, 1998; Tillich, 1959).
Dalam diskursus teologi dan filsafat ketuhanan, muncul pandangan yang menyatakan bahwa mengidentikkan nama Tuhan dengan Tuhan itu sendiri merupakan kekeliruan konseptual, sebuah kesesatan sikap batin. Pandangan ini berangkat dari kesadaran bahwa nama hanyalah konstruksi linguistik yang digunakan manusia untuk menunjuk kepada realitas yang jauh melampaui bahasa. Nama dalam bahasa Arab, Indonesia, Inggris, maupun bahasa lainnya tidak pernah mencakup keseluruhan hakikat Yang Mutlak. “Bahasa religius menghadapi keterbatasan ketika berusaha menjelaskan realitas yang melampaui pengalaman manusia” (Internet Encyclopedia of Philosophy, n.d.).
Dari perspektif semantik dan semiotika, nama merupakan penanda (signifier), sedangkan yang dirujuk adalah realitas yang ditandai (signified). Hubungan keduanya bukan hubungan identitas, melainkan hubungan representasi. Ketika manusia menyebut suatu nama untuk merujuk kepada Tuhan, yang terjadi sesungguhnya adalah proses simbolisasi melalui perangkat kognitif dan bahasa yang terbatas. Karena itu, kesalahan filosofis terjadi ketika simbol diperlakukan sebagai keseluruhan realitas yang diwakilinya. “Tanda menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya dan tidak identik dengan objek yang ditunjuk” (Tillich, 1959).
Pemikiran filsafat bahasa modern turut memperkuat kesadaran ini. Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus menyoroti keterbatasan bahasa dalam menggambarkan realitas yang melampaui pengalaman empiris manusia. Ketika manusia mencoba menjelaskan Yang Absolut melalui kata-kata, bahasa sesungguhnya sedang bekerja pada batas kemampuannya sendiri. Oleh sebab itu, menyamakan nama dengan Zat Tuhan berpotensi melahirkan reduksionisme, yakni menyempitkan Yang Tak Terbatas ke dalam kerangka konseptual manusia yang terbatas. “Tidak semua realitas dapat sepenuhnya ditangkap dan diungkapkan oleh bahasa” (Wittgenstein, 1922/2001).
Dalam khazanah teologi Islam, perbedaan antara Zat Tuhan dan nama-nama-Nya telah lama menjadi bahan pembahasan para teolog, filsuf, dan sufi. Al-Qur’an menegaskan transendensi mutlak Tuhan melalui pernyataan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Dalam ritual ibadah, yang disembah bukanlah nama (dalam bahasa apapun), bukan tulisan, bukan simbol. Nama-nama Ilahi dipahami sebagai sarana agar manusia dapat mengenali aspek-aspek kemuliaan dan kesempurnaan Tuhan sesuai kapasitas pemahamannya. “Nama-nama Tuhan berfungsi sebagai jalan pengenalan spiritual, bukan sebagai pengganti hakikat Tuhan itu sendiri” (Ibn Arabi, 1980).
Dalam perspektif tasawuf, penyebutan nama-nama Tuhan memiliki fungsi pedagogis dan transformasional. Dzikir, doa, dan berbagai bentuk ibadah verbal bukanlah pemujaan terhadap bunyi huruf atau susunan kata, melainkan upaya mengarahkan pusat kesadaran kepada Yang Maha Hadir. Nama berfungsi sebagai kompas batin yang mengarahkan hati menuju sumber segala keberadaan. “Simbol religius mengarahkan manusia kepada dimensi terdalam dari makna dan keberadaan” (Tillich, 1957).
Kesadaran akan sifat simbolik nama Tuhan juga membantu manusia terhindar dari pengultusan simbol, bahasa, budaya asal bahasa. Ketika huruf, suara, atau istilah tertentu dianggap sebagai totalitas Tuhan, manusia berisiko berhenti pada bentuk dan kehilangan substansi, berisiko terjebak dalam fanatisme simbol. Padahal tujuan sejati penghambaan adalah keterarahan kesadaran kepada Sang Pencipta, bukan kepada wadah linguistik yang digunakan untuk menyebut-Nya. “Simbol memperoleh maknanya karena menunjuk kepada realitas yang lebih dalam daripada dirinya sendiri” (Tillich, 1959).
Sebagai konklusi, pikiran, mata dan telinga manusia membutuhkan simbol untuk memahami, berkomunikasi, dan beraksi. Nama Tuhan, sebagai simbol, merupakan instrumen epistemologis, pedagogis, dan spiritual yang membantu manusia mengarahkan perhatian kepada Yang Mutlak. Nama Tuhan bukanlah Tuhan, sebagaimana peta bukanlah wilayah yang dipetakan dan sebagaimana cermin bukanlah wajah yang dipantulkannya. Memahami perbedaan ini menjaga kejernihan berpikir sekaligus memperdalam kualitas spiritualitas, sehingga manusia tidak terjebak pada simbol, melainkan bergerak menuju hakikat yang ditunjuk oleh simbol tersebut. “Bahasa religius memiliki fungsi menunjuk kepada realitas ilahi yang melampaui bahasa itu sendiri” (Alston, 1998).
Dan pada akhirnya, ketika semua nama telah diucapkan, semua definisi telah dirumuskan, dan semua konsep telah dibangun, masih tersisa sebuah keheningan yang tidak dapat diterjemahkan oleh kata-kata. Di sana manusia menyadari bahwa Tuhan tidak pernah tertampung di dalam huruf, tidak pernah terkurung dalam suara, dan tidak pernah selesai dijelaskan oleh Bahasa, bahkan oleh teks agama sekalipun. Nama hanyalah ketukan di pintu, sedangkan kehadiran-Nya adalah ruang tak berbatas di balik pintu itu. Semakin dalam seseorang memahami keterbatasan simbol, semakin luas cakrawala kesadarannya. Maka mungkin kebijaksanaan tertinggi bukanlah menghafal dan melafal sebanyak mungkin nama, melainkan memahami dan mengalami wilayah batin dimana nama-nama itu menunjuk. Sebab ketika jari telah menunjukkan bulan, perhatian yang bijaksana tidak lagi terpaku pada jari; ia mengarahkan pandangan batinnya menuju wilayah cahaya tak terjelaskan yang selama ini berusaha dijelaskan dan digambarkan oleh segala bahasa, segala teks suci agama, dan segala pencarian melalui jalan keilmuan.
------SELESAI------
Referensi:
• Alston, W. P. (1998). Religious Language. Routledge Encyclopedia of Philosophy.
• Ibn Arabi. (1980). The Bezels of Wisdom (Fusus al-Hikam). Paulist Press.
• Internet Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Religious Language. [iep.utm.edu]
• Tillich, P. (1957). Dynamics of Faith. Harper & Row. [tillichcor....github.io]
• Tillich, P. (1959). Theology of Culture. Oxford University Press. [jstor.org]
• Weisberger, A. (1970). Tillich's Theory of Signs and Symbols. The Monist, 54(4), 594-613. [jstor.org]
• Wittgenstein, L. (2001). Tractatus Logico-Philosophicus (D. F. Pears & B. F. McGuinness, Trans.). Routledge. (Karya asli diterbitkan tahun 1922).
_____________________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
_____________________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis

Social Header