Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 7 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 3,5 menit.

Ilmu pengetahuan modern membuktikan dengan tegas dan nyata bahwa intervensi medis mampu mengurangi risiko penyakit dan memperpanjang usia. Manusia seakan terus menegosiasi dan menulis ulang perjanjian dengan Penciptanya. “Kemajuan bioteknologi telah menurunkan angka mortalitas secara signifikan di berbagai belahan dunia” (Lancet Global Health, 2025). “Usia harapan hidup global meningkat dari 52 tahun pada 1960 menjadi lebih dari 73 tahun pada 2023” (World Health Organization, 2024). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan; penginderaan mikro, penginderaan organ internal, teknologi bedah, teknologi transplantasi, penemuan antibiotika, vaksinasi, terapi gen, teknologi nutrisi, neurosains, teknologi elektromagnetik, dan kecerdasan buatan di bidang medis telah memperpanjang usia jutaan orang. 

Seolah kematian bisa ditunda, seolah takdir bisa dinegosiasikan. Namun di sisi lain, keyakinan religius tetap teguh: “Mati adalah takdir ilahi yang tidak dapat dihindari, setiap detik kehidupan tetap berada dalam genggaman Tuhan.” (Nasr, 2019). Manusia kini berdiri di persimpangan antara iman dan algoritma, antara doa dan data. Di satu sisi, teknologi medis terus menembus batas yang dulu dianggap sakral—mengganti organ, memperbaiki gen, bahkan merancang kehidupan di laboratorium. Di sisi lain, setiap keberhasilan ilmiah menimbulkan gaung pertanyaan metafisis: apakah manusia sedang menjalankan kehendak Tuhan melalui akalnya, atau sedang menantang garis yang telah ditetapkan? Masihkah perpanjangan usia harapan hidup menjadi kuasa takdir ilahi, ataukah Tuhan telah mendelegasikannya kepada teknologi? 

Meski ilmu dan iman tidak selalu bertentangan, melainkan menyingkap sisi-sisi kebenaran yang berbeda, namun tetap menyisakan tanya. “Agama memberi makna pada hidup, sementara ilmu memberi cara untuk memperpanjangnya” (Taylor, 2022). Kemajuan ilmu memberi manusia kemampuan untuk memperpanjang hidup, tetapi tidak untuk menghapus kematian. “Ilmu dapat memperpanjang waktu hidup, namun tidak dapat mengubah hakikat kefanaan” (Taylor, 2022). Tetapi apakah memperpanjang hidup itu merupakan wujud keberanian manusia untuk mengubah takdir, atau sekadar menjalani takdir dengan cara yang lebih panjang; tetap menjadi pertanyaan bagi umat manusia. 

Maka, di antara denyut dan deru mesin teknologi dan doa yang lirih di keheningan batin, manusia terus mencari makna: apakah teknologi adalah tangan Tuhan yang bekerja melalui manusia, atau cermin dari keberanian manusia menatap wajah takdir? Manusia terus menulis bab baru tentang umur panjang, sementara agama tetap menegaskan kematian sebagai kepastian. Apakah teknologi adalah bentuk perlawanan terhadap takdir, atau justru bagian dari takdir itu sendiri? Apakah teknologi hanyalah instrumen yang dipakai Tuhan untuk memperpanjang kehidupan, ataukah ia adalah bentuk keberanian manusia menawar garis takdir? Ataukah persepsi dan definisi manusia tentang takdir yang perlu untuk ditinjau dan disesuaikan? Atau, jangan-jangan, lebih dalam lagi, persepsi dan definisi manusia tentang Penguasa takdir lah yang perlu untuk ditinjau dan disesuaikan.

Referensi:
• World Health Organization. (2024). Global Health Observatory Data Repository: Life Expectancy Trends. WHO Publications.
• Lancet Global Health. (2025). Advances in Biotechnology and Preventive Medicine. Elsevier.
• Nasr, S. H. (2019). Religion and the Order of Nature. Oxford University Press.
• Küng, H. (2011). The Beginning of All Things: Science and Religion. Wm. B. Eerdmans Publishing.
• Taylor, C. (2022). Ethics of Longevity: Science, Faith, and Human Meaning. Cambridge University Press.
=============================
"MPK’s Literature-based Perspectives" 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
=============================
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis