Breaking News

TUHAN TAK PERLU DICARI, TAK PERLU DIDEKATI

Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 8 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 6 menit.

Jika Tuhan maha besar, yang awal-yang akhir, maka tak ada satu tempat pun, tak ada sesuatu dan yang bukan sesuatu pun yang tidak tercakupi, terlingkupi, terresapi oleh-Nya. Seperti cahaya yang tidak pernah meninggalkan matahari, Tuhan adalah totalitas “ada” itu sendiri—tak berjarak, tak berpisah, tak bersembunyi, tak terbatas. Maka, setiap pencarian menegaskan adanya ilusi keterpisahan, jarak, dan keasingan. Pencarian adalah pengakuan bahwa Ia berada di luar diri, jauh, dan belum ditemukan. Padahal, kehadiran-Nya bukanlah sesuatu yang harus dijangkau, melainkan dihayati dalam denyut aliran napas yang sudah ada. 

Ketika Kesadaran Total memanifestasikan dirinya ke dimensi material untuk mengalami diri-Nya di dimensi material melalui salah satu unit manifestasi-Nya bernama manusia, dengan segala keterbatasan fisik dan psikisnya, di situlah keterbatasan fisik dan psikis mengakibatkan ilusi keterpisahan, ilusi makna operasional manusiawi, ilusi makna relasional manusiawi. Namun Kesadaran Total terus menyala sebagai kesadaran individual. Di situlah agama dan spiritualitas muncul; manusia (pikiran dan perasaan) senantiasa terpanggil-panggil untuk pulang, mencari dirinya-Nya yang dirasa hilang, meskipun sebenarnya tetap ada, tetap bersama, tak pernah terpisah. Maka. semakin manusia berupaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan, ia sebenarnya semakin menciptakan ilusi jarak yang halus antara dirinya dan yang Ilahi. Ada jarak yang tidak bisa dijelaskan antara kata “dekat” dan “ada.” “Kedekatan adalah bentuk jarak yang disamarkan oleh bahasa manusia” (Eliade, 1959). Dalam kesadaran yang paling dalam, Tuhan tidak berada di luar diri, tidak di langit, tidak di altar, tidak di kitab. Tuhan adalah denyut yang sama dengan napas, adalah kesadaran yang sedang membaca kalimat ini. Dalam setiap detak jantung, setiap aliran nafas ada gema kehadiran yang tidak bisa dipisahkan dari eksistensi itu sendiri.

Manusia telah lama mencari Tuhan di tempat yang jauh, di ruang yang penuh simbol dan ritual. “Pencarian eksternal terhadap Tuhan adalah refleksi dari keterpisahan batin manusia dengan dirinya sendiri” (Jung, 1958). Ia membangun kuil, masjid, dan gereja, berharap menemukan sesuatu yang telah ada di dalam dirinya sejak awal. Padahal, setiap langkah menuju altar adalah perjalanan menjauh dari pusat kesadaran yang sejati. Tuhan tidak menunggu di tempat suci; Ia berdiam di ruang paling sunyi dalam diri manusia—di ruang antara pikiran yang berhenti berkecamuk ilusif, dan napas yang sadar.

Dalam perspektif mistisisme universal, kesadaran manusia dan kesadaran Ilahi adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. “Kesadaran adalah bentuk manifestasi Tuhan dalam diri manusia” (Wilber, 2000). Ketika seseorang menyadari dirinya sepenuhnya, ia tidak lagi mencari Tuhan, karena pencarian itu telah berakhir dalam penemuan diri. Tuhan bukan entitas yang harus ditemukan, melainkan keadaan yang harus dihayati. Dalam diam, manusia tidak berdoa kepada Tuhan—ia menjadi Tuhan.

“Ana al-Haq (aku adalah Tuhan),” dari Al-Hallaj, bukan sekadar pernyataan keberanian, melainkan pengakuan bahwa batas antara manusia dan Tuhan telah lenyap dalam pengalaman spiritual yang total. Syeh Siti Jenar dengan “manunggaling kawula lan Gusti” menggambarkan penyatuan antara manusia dan Tuhan sebagai satu kesadaran yang tak terpisahkan. “Ketika kesadaran manusia mencapai titik jumbuh, ia tidak lagi melihat Tuhan sebagai objek, tetapi sebagai dirinya sendiri yang telah melebur dalam kehadiran Ilahi” (Simuh, 1988). Dalam keadaan itu, doa bukan lagi permohonan, melainkan resonansi antara yang fana dan yang kekal.

Konklusi dari perenungan ini adalah bahwa “mencari Tuhan” atau konsep “mendekatkan diri kepada Tuhan” adalah ilusi linguistik yang diciptakan oleh keterbatasan persepsi manusia. “Bahasa tidak mampu menangkap keutuhan pengalaman spiritual; ia hanya mampu mendekati melalui metafora” (Heidegger, 1971). Ketika kita berkata Tuhan dekat, kita sebenarnya sedang menegaskan bahwa Ia masih di luar diri kita. Padahal, Tuhan tidak dekat, tidak jauh—Ia adalah inti dari keberadaan itu sendiri. Yang perlu dilakukan hanyalah meninggalkan definisi dan konseptualisasi, menanggalkan tirai-tirai ilusi yang menyebabkan rasa keterpisahan dari-Nya. Dengan begitu, kesadaran tidak lagi terbelenggu oleh kata, oleh bahasa, oleh konsep, melainkan apa adanya bebas menyatu dengan kehadiran yang murni.

Pada akhirnya, kesadaran tertinggi bukanlah tentang mencari atau mendekatkan diri pada Tuhan, melainkan tentang mengenali bahwa tidak ada jarak antara yang mencari dan yang dicari. “Yang Ilahi bukan sesuatu yang hadir di luar, melainkan kesadaran yang menyadari dirinya sebagai bagian dari keseluruhan” (AV, 8th century). Maka, jangan cari Tuhan dalam bacaan, hafalan, riuhnya doa dan sibuknya ritual; hayati Ia di ruang batinmu yang paling sunyi, di titik di mana kamu berhenti menjadi pencari dan mulai menjadi yang dicari. Di sanalah Tuhan berdiam—bukan sebagai sosok yang terpisah, tetapi sebagai “Dirimu” sendiri.

Referensi:
• Eliade, M. (1959). The Sacred and the Profane: The Nature of Religion. New York: Harcourt.
• Jung, C. G. (1958). Psychology and Religion: West and East. Princeton: Princeton University Press.
• Wilber, K. (2000). Integral Psychology: Consciousness, Spirit, Psychology, Therapy. Boston: Shambhala.
• Simuh. (1988). Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. Yogyakarta: Bentang Budaya.
• Heidegger, M. (1971). Poetry, Language, Thought. New York: Harper & Row.
• AV (8th century). Upanishadic Commentaries on Non-Dual Consciousness. India: Traditional Sanskrit Texts.
________________________________________
MPK’s Literature-based Perspectives 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM