Breaking News

PERTANYAAN ITU “KNOWING”, JAWABAN ITU “KNOWLEDGE”

Bersama: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 14 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 4 menit.

Dalam ruang batin yang sunyi, di antara denyut waktu dan kesadaran, manusia hidup di antara dua kutub: knowing dan knowledge. Knowing adalah aliran yang segar, hidup, dan bergerak — seperti sungai yang terus mencari muara baru. Knowledge adalah endapan dari aliran itu, tenang, beku, dan kadang usang. “Pertanyaan itu knowing, jawaban itu knowledge.” Kalimat ini menyingkap paradoks eksistensi intelektual manusia: bahwa kehidupan pikiran sejati bukan terletak pada jawaban, melainkan pada keberanian untuk terus bertanya. “Pengetahuan yang hidup adalah pengetahuan yang terus berubah,” (Bohm, 1980).

Dalam filsafat epistemologi, knowing dipahami sebagai proses dinamis yang melibatkan kesadaran dan pengalaman langsung. “Mengetahui adalah tindakan yang terus berlangsung, bukan hasil akhir,” (Polanyi, 1966). Ia adalah gerak yang otentik, yang menuntun manusia untuk terus bereksperimen, meragukan, dan memperbarui pemahaman. Sementara knowledge adalah bentuk yang telah selesai — ia adalah arsip dari masa lalu, catatan dari apa yang sudah diketahui. Ketika manusia berhenti pada knowledge, ia berhenti tumbuh.

Psikologi kognitif modern menegaskan bahwa proses berpikir kreatif muncul dari knowing — dari rasa ingin tahu yang aktif dan terbuka terhadap ketidakpastian. “Kreativitas lahir dari interaksi antara pengetahuan yang ada dan pertanyaan baru yang belum terjawab,” (Runco & Jaeger, 2012). Dalam knowing, manusia tidak takut salah, karena kesalahan adalah bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam. Sedangkan dalam knowledge, manusia cenderung mempertahankan kebenaran yang sudah mapan, dan di situlah stagnasi dimulai.

Dalam konteks pendidikan dan penelitian, knowing adalah roh yang menghidupkan ilmu. “Pendidikan sejati bukanlah transfer pengetahuan, melainkan pembangkitan kesadaran untuk terus bertanya,” (Freire, 1970). Ketika sistem pendidikan hanya menekankan jawaban, ia membunuh rasa ingin tahu. Sebaliknya, ketika ia menumbuhkan knowing, ia melahirkan generasi yang berpikir kritis dan berani menggugat status quo.

Konklusinya, knowing adalah kehidupan, sedangkan knowledge adalah kenangan tentang kehidupan itu. “Pengetahuan yang sejati bukanlah kumpulan jawaban, melainkan kemampuan untuk terus bertanya,” (Berger, 2014). Dalam knowing, manusia menemukan kebebasan intelektual; dalam knowledge, ia menemukan batas.

Pada akhirnya, manusia yang hidup dalam knowing adalah manusia yang terus bergerak — yang tidak takut pada ketidakpastian, yang merayakan setiap pertanyaan sebagai tanda bahwa pikirannya masih berdenyut dan bernapas. Sebab, jawaban adalah akhir dari pencarian, tetapi pertanyaan adalah tunas baru pertumbuhan peradaban.

Referensi:
• Berger, W. (2014). A More Beautiful Question: The Power of Inquiry to Spark Breakthrough Ideas. Bloomsbury. • Bohm, D. (1980). Wholeness and the Implicate Order. Routledge. • Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. Continuum. • Polanyi, M. (1966). The Tacit Dimension. University of Chicago Press. • Runco, M. A., & Jaeger, G. J. (2012). The Standard Definition of Creativity. Creativity Research Journal.
==============================
“MPK’s Literature-based Perspectives” 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
==============================
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM