Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 28 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 3,5 menit.
Ketika manusia berhadapan dengan gelombang batin yang tak tenang, kesedihan yang merayap, atau stres yang menjerat, ia sering kali berusaha melawan, menolak, atau menyingkirkan pengalaman itu. Paradoksnya adalah bahwa penolakan dan perlawanan terhadap ketidaktenangan, kesedihan, dan kesetresan justru membuat ketidaktenangan, kesedihan, dan kesetresan semakin kuat, semakin dalam, semakin menghanyutkan, menenggelamkan, dan menyesatkan. Namun, justru dalam kesadaran penuh dan penerimaan atas ketidaknyamanan, tersimpan pintu menuju kelegaan. “Menyadari dan menerima ketidaktenangan adalah pintu menuju ketenangan” — sebuah paradoks yang menyingkap bahwa ketenangan bukanlah hasil dari menghapus gejolak, melainkan dari keberanian untuk menatapnya dengan jernih. Penelitian psikologi kontemporer menunjukkan bahwa praktik mindful acceptance mampu menurunkan kecemasan dan meningkatkan regulasi emosi (Hayes et al., 2011).
Kesedihan, bila diterima tanpa penolakan, berubah menjadi ruang refleksi yang mendalam. “Menyadari dan menerima kesedihan adalah pintu menuju ketidaksedihan” — karena kesedihan yang diakui tidak lagi menjadi beban tersembunyi, melainkan energi yang dapat diolah menjadi kebijaksanaan. Studi dalam literatur psikologi eksistensial menegaskan bahwa penerimaan terhadap emosi negatif justru memperkuat daya tahan psikologis dan memperluas kapasitas empati (Wong, 2020).
Stres, yang sering dianggap musuh, sesungguhnya dapat menjadi guru. “Menyadari dan menerima kesetresan adalah pintu menuju kebebasan dari stres.” Dengan menerima stres sebagai bagian dari dinamika hidup, manusia belajar menata ulang prioritas, menemukan makna, dan membangun resiliensi. Model stress-as-enhancer dalam psikologi kesehatan menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap stres dapat meningkatkan performa dan kesejahteraan (Crum et al., 2013). Sebagaimana seorang atlit yang menyadari dan menerima stres dari program latihan fisik yang berat yang membuatnya menjalani latihan dengan tenang dan menjadikannya secara fisik lebih kuat dan lebih cepat, secara mental juga lebih liat.
Konklusi dari refleksi ini adalah bahwa penerimaan bukanlah sikap pasif, melainkan tindakan aktif yang membuka ruang bagi transformasi batin. Dengan menerima ketidaktenangan, kesedihan, dan stres, manusia tidak lagi diperbudak oleh emosi, melainkan menjadi pengamat yang bijak atas arus kehidupan. Penerimaan adalah pintu menuju kebebasan psikologis, yang pada akhirnya menuntun pada ketenangan dan kebahagiaan yang lebih autentik.
Pada akhirnya, penolakan dan perlawanan terhadap ketidaktenangan, kesedihan, dan kesetresan justru membuat ketidaktenangan, kesedihan, dan kesetresan semakin kuat, semakin dalam, semakin menghanyutkan, menenggelamkan, dan menyesatkan. Kesadaran dan penerimaan adalah seni hidup yang menuntun manusia menuju kedalaman dirinya. Ia mengajarkan bahwa ketenangan bukanlah ketiadaan badai, melainkan kemampuan untuk berdiri tegak di tengah badai dengan hati yang lapang. Kesedihan bukanlah kehancuran, melainkan jalan menuju pemahaman yang lebih luas. Stres bukanlah belenggu, melainkan undangan untuk menemukan kebebasan. Di sinilah manusia menemukan jejak yang kuat: bahwa menerima adalah bentuk tertinggi dari keberanian, dan keberanian itu adalah pintu menuju kebebasan sejati.
Referensi:
• Hayes, S. C., Strosahl, K. D., & Wilson, K. G. (2011). Acceptance and Commitment Therapy: The Process and Practice of Mindful Change. Guilford Press.
• Wong, P. T. P. (2020). Existential Positive Psychology (PP2.0): The New Science of Self-Transcendence. Frontiers in Psychology, 11, 1877. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01877
• Crum, A. J., Salovey, P., & Achor, S. (2013). Rethinking stress: The role of mindsets in determining the stress response. Journal of Personality and Social Psychology, 104(4), 716–733. https://doi.org/10.1037/a0031201
============================
MPK’s Literature-based Perspectives
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
============================
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI) Editor : Nofis Husin Allahdji

Social Header