Bersama: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 26 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 4 menit.
Di tengah arus waktu yang terus mengalir, manusia menatap dunia dengan mata yang penuh tafsir. Batu di tepi jalan hanyalah batu, sampai seseorang menatapnya sebagai simbol kenangan, doa, atau luka. “Makna tidak secara inheren melekat pada benda; ia lahir dari kesadaran yang menafsirkannya” (Barthes, 2023). Makna bukanlah sesuatu yang otomatis ada di dalam benda atau peristiwa. Makna tidak dibawa oleh objek atau peristiwa sejak awal keberadaannya atau kejadiannya. Bahkan Pencipta pun tidak menyisipkan dan menetapkan makna pasti dan tunggal atas setiap benda maupun peristiwa. Makna muncul karena manusia menafsirkannya, menempelkan arti, atau memberi konteks. Manusia memiliki kebebasan untuk membangun makna dan menempelkannya pada benda atau peristiwa. Dunia tidak pernah berbicara dengan bahasa yang pasti — manusialah yang menempelkan kata, rasa, dan nilai pada setiap peristiwa. Maka, hidup bukan sekadar rangkaian kejadian, melainkan proses penciptaan makna yang terus berubah seiring pengalaman dan kesadaran.
Dalam filsafat fenomenologi, makna dipahami sebagai hasil interaksi antara subjek dan objek. “Realitas tidak memiliki arti sebelum manusia memaknainya melalui pengalaman dan intensionalitas” (Husserl, 2024). Ketika seseorang menangis di bawah hujan, hujan itu bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan cermin dari kesedihan yang sedang dialami. Begitulah manusia menempelkan makna pada dunia — bukan karena dunia memintanya, tetapi karena kesadaran manusia tidak bisa hidup tanpa memberi arti.
Psikologi kognitif modern juga menegaskan bahwa makna adalah konstruksi mental yang dibentuk oleh konteks dan pengalaman. “Manusia menafsirkan peristiwa berdasarkan skema kognitif yang dibangun dari sejarah hidupnya” (Neisser, 2022). Dua orang bisa melihat peristiwa yang sama, tetapi menafsirkannya secara berbeda. Seseorang melihat kehilangan sebagai kutukan, sementara yang lain melihatnya sebagai kesempatan untuk tumbuh. Perbedaan itu bukan karena peristiwa memiliki makna yang berbeda, melainkan karena manusia menempelkannya dengan cara yang berbeda, dengan refleksi dan memori latar belakang maupun proyeksi latar depan yang berbeda.
Dalam konteks sosial, makna juga merupakan hasil negosiasi dan konvensi antarindividu. “Makna sosial terbentuk melalui interaksi simbolik yang terus-menerus antara manusia dan lingkungannya” (Blumer, 2023). Sebuah bendera, misalnya, hanyalah kain berwarna sebelum manusia menempelkannya dengan simbol identitas, perjuangan, dan kebanggaan. Ketika makna itu disepakati bersama, ia menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan massa, bahkan mengubah sejarah.
Konklusi dari pemikiran ini menegaskan bahwa makna bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang diciptakan. “Manusia adalah makhluk yang menempelkan arti pada dunia agar hidupnya terasa bermakna” (Frankl, 2006). Tanpa proses itu, dunia akan terasa hampa — hanya kumpulan benda dan peristiwa tanpa resonansi emosional. Maka, tugas manusia bukan mencari makna yang sudah ada, tetapi menciptakan makna yang membuat hidupnya layak dijalani.
Pada akhirnya, makna adalah cermin dari kesadaran manusia yang terus tumbuh. Ia tidak datang dari langit, tidak terukir di batu, dan tidak diwariskan oleh waktu. “Makna adalah bayangan yang kita ciptakan sendiri di dinding kehidupan” (Heidegger, 2025). Dalam setiap langkah, manusia menempelkan arti pada yang diam, memberi suara pada yang bisu, dan menemukan dirinya dalam proses menafsirkan dunia. Di situlah kehidupan menjadi seni — bukan karena dunia bermakna, tetapi karena manusia memilih untuk memberinya makna.
------SELESAI------
Referensi:
• Barthes, R. (2023). Mythologies. Paris: Seuil.
• Husserl, E. (2024). Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology. Cambridge University Press.
• Neisser, U. (2022). Cognitive Psychology. Appleton-Century-Crofts.
• Blumer, H. (2023). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. University of California Press.
• Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
• Heidegger, M. (2025). Being and Time. HarperCollins.
=============================
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
=============================
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI) Editor : Nofis Husin Allahdji

Social Header