Breaking News

KAU KIRA TUHAN ITU BODOH !!!

Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 09 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 4 menit.

Dalam sunyi dan lirihnya doa, pikiran manusia seringkali justru lebih sibuk dan ramai dari biasanya. Ia menundukkan kepala, mengangkat tangan, dan melafalkan kata-kata yang sama setiap hari, berulang kali, yang sering kali lebih mirip daftar belanja rutin daripada untaian puisi dari kedalaman jiwa. “Doa bukanlah permintaan, melainkan penerimaan,” kata Osho, dan di sanalah paradoks manusia terbuka: sebagian besar manusia menganggap Tuhan sebagai pelayan kosmik, penjaga toko yang harus memenuhi segala keinginan. Padahal, doa sejati adalah keheningan yang penuh syukur, bukan kebisingan yang penuh tuntutan. “Doa yang meminta adalah bentuk kesombongan terselubung,” (Osho, 1980).

Ketika manusia berdoa untuk hal-hal yang saling bertentangan, dunia menjadi panggung absurditas. Petani memohon hujan, sementara pengrajin tembikar memohon langit tetap cerah. Jika Tuhan mengabulkan semua permintaan, maka kekacauan besar akan terjadi. “Doa manusia saling bertentangan, sehingga belas kasih Tuhan justru tampak dalam penolakan-Nya,” (Hood, Hill, & Spilka, 2018). Dalam perspektif psikologi agama, doa yang meminta sering kali menimbulkan ilusi kontrol, padahal yang sejati adalah penerimaan atas keterbatasan manusia (Ano & Vasconcelles, 2005).

Lebih jauh, tubuh mungkin tunduk, tetapi pikiran tetap sombong, meragukan kemahamampuan Tuhan. Orang yang meminta sebenarnya sedang berkata: “Aku tidak percaya Engkau sudah memberikan yang terbaik.” Inilah bentuk kesombongan spiritual yang halus, di mana manusia menilai dirinya dan hidupnya sebagai ciptaan Tuhan adalah kurang sempurna. “Doa yang meminta adalah proyeksi ego yang menolak kenyataan,” (Pargament, 1997). Dalam kerangka coping-nya Lazarus & Folkman (1984), doa yang meminta hanyalah strategi emotion-focused yang rapuh, sementara doa sejati adalah acceptance & surrender — menerima dan menyerahkan diri sepenuhnya. Bersyukur dan ikhlas atas apapun yang telah dan akan ada dan terjadi; baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. “Sumeleh lan nrimo ing pandum”, kata orang Jawa.

Sesungguhnya, manusia sudah diberikan segalanya: kehidupan, kesadaran, napas, detak jantung, matahari, bulan, dan seluruh alam semesta. Namun kerap kali ia seolah menolak berdiri di tengah tambang emas sambil meminta mainan plastik. “Manusia sering gagal menyadari bahwa keberadaan itu sendiri adalah anugerah terbesar,” (Newberg & Waldman, 2016). Doa sejati adalah keberserahan dan rasa syukur tanpa alasan, penerimaan total, keheningan yang mendengarkan, bukan kebisingan yang menuntut dan mendikte.

Konklusinya, doa sejati bukanlah permintaan, melainkan penghancuran “mangkuk pengemis” dalam diri. Ketika manusia berhenti menuntut, barulah doa dimulai. “Doa sejati adalah membeningkan dan mengheningkan diri — mendengarkan, bukan berbicara,” (Osho, 1980). Dengan demikian, doa menjadi ruang di mana manusia tidak lagi menganggap Tuhan bodoh, melainkan mengakui kebijaksanaan-Nya yang melampaui segala logika.

Pada akhirnya, doa adalah cermin dari keberanian untuk menerima hidup apa adanya. Ia bukan perintah kepada Tuhan, melainkan puisi keheningan yang menegaskan bahwa manusia siap berjalan dan menari bersama misteri. Doa sejati adalah surrender — penyerahan total yang melahirkan kedamaian. Dan mungkin, di situlah keajaibannya: bukan pada jawaban yang turun dari langit, tetapi pada ketenangan yang tumbuh di dalam diri.

------SELESAI------
Referensi:
• Ano, G. G., & Vasconcelles, E. B. (2005). Religious coping and psychological adjustment. Journal of Clinical Psychology. • Hood, R. W., Hill, P. C., & Spilka, B. (2018). The Psychology of Religion: An Empirical Approach. Guilford Press. • Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer. • Newberg, A., & Waldman, M. (2016). How Enlightenment Changes Your Brain. Penguin. • Pargament, K. I. (1997). The Psychology of Religion and Coping. Guilford Press. • Osho. (1980). Prayer: A Communion with the Unknown. Rajneesh Foundation.
=================================
“MPK’s Literature-based Perspectives” 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
=================================
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM