Breaking News

KERACUNAN PENGETAHUAN DAN RABUN REALITAS


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 3 Maret 2026

Manusia, sang pengembara di panggung semesta, sering kali terjebak dalam kabut pengetahuan yang ia ciptakan sendiri. Ia tidak mampu melihat segala sesuatu apa adanya, karena pandangannya telah diracuni oleh konstruksi epistemologis, cara pandang yang dibentuk oleh pengetahuan, kerangka berpikir yang kita buat untuk memahami dunia, yang menutup mata dari realitas murni. Seperti kaca berdebu yang memantulkan cahaya, pengetahuan manusia sering kali lebih banyak menipu daripada menerangi. “Keracunan epistemologis membuat manusia kehilangan kemampuan untuk melihat realitas secara langsung,” tulis Heidegger (1927), menegaskan bahwa manusia lebih sibuk dengan tafsir daripada dengan kenyataan itu sendiri.

Epistemologi, sebagai cara manusia memahami dunia, sering kali menjadi jebakan. “Manusia membangun sistem pengetahuan yang justru menjauhkan dirinya dari pengalaman autentik,” kata Foucault (1972). Alih-alih membuka mata, sistem itu menutup pandangan dengan dogma, teori, dan narasi yang dianggap mutlak. Keracunan epistemologis ini membuat manusia lebih percaya pada konsep, dogma pengetahuan, daripada pada kenyataan yang hadir di depan mata.

Dalam konteks modern, keracunan epistemologis semakin parah karena teknologi informasi. “Era digital memperkuat bias kognitif dan menciptakan ilusi kebenaran melalui arus data yang berlebihan,” ujar Floridi (2014). Manusia merasa tahu segalanya, padahal ia hanya berenang di permukaan informasi yang dangkal. Pengetahuan menjadi konsumsi cepat, bukan refleksi mendalam.

Psikologi kontemporer juga menyoroti fenomena ini. “Manusia cenderung mencari kepastian epistemologis untuk mengurangi kecemasan eksistensial,” tulis Vervaeke (2019). Namun kepastian itu sering kali palsu, karena dibangun di atas asumsi dan interpretasi yang rapuh. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan untuk hadir secara jernih, untuk melihat dunia tanpa filter.

Namun, jika kita memandang secara ontologis, keracunan epistemologis dapat dilihat sebagai kabut yang menutupi hakikat keberadaan. “Ontologi mengajarkan bahwa realitas bukan sekadar apa yang kita pikirkan tentangnya, tetapi apa yang ada sebelum segala tafsir,” tulis Sartre (1943). Dengan pandangan ontologis, manusia diajak untuk kembali pada keberadaan murni, pada being yang tidak terikat oleh konsep. Ontologi membuka ruang untuk melihat dunia bukan sebagai objek pengetahuan, melainkan sebagai kehadiran yang menuntut keterlibatan langsung.

Konklusinya, keracunan epistemologis adalah penyakit kolektif yang membuat manusia terasing dari realitas. Ia lebih sibuk dengan tafsir daripada dengan pengalaman, lebih percaya pada teori daripada pada kenyataan. Untuk keluar dari keracunan ini, manusia perlu kembali pada kesadaran murni: melihat, merasakan, dan mengalami tanpa harus selalu menafsirkan.

Dan akhirnya, kita belajar bahwa pengetahuan sejati bukanlah kumpulan teori, melainkan keberanian untuk melihat dunia apa adanya. Seperti mata yang baru dibuka dari mimpi panjang, manusia perlu belajar kembali menatap realitas tanpa racun epistemologis. Dalam kesadaran itu, kita menemukan kebebasan: bahwa hidup tidak harus selalu dijelaskan, cukup dijalani dengan mata yang jernih dan hati yang terbuka.

Referensi:
• Heidegger, M. (1927). Sein und Zeit. Tübingen: Niemeyer.
• Foucault, M. (1972). The Archaeology of Knowledge. London: Tavistock.
• Floridi, L. (2014). The Fourth Revolution: How the Infosphere is Reshaping Human Reality. Oxford: Oxford University Press.
• Vervaeke, J. (2019). “Relevance Realization and the Emerging Framework in Cognitive Science.” Journal of Consciousness Studies, 26(5-6), 21–56.
• Sartre, J. P. (1943). L’Être et le Néant. Paris: Gallimard.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives" 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM