Breaking News

LAGAK MIKROBA BERNAMA MANUSIA DI BENTANGAN SEMESTA

Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 28 Februari 2026

Di semesta yang tak bertepi, Bumi hanyalah sebutir debu yang tersesat dalam badai cahaya. Di atas noktah pucat inilah, manusia—sang mikroba yang narsistik—merajut nalar demi menutupi ketelanjangannya di hadapan sunyi yang abadi. Kita berdiri di atas panggung yang fana, mengenakan jubah makna yang kita jahit sendiri, sembari berteriak ke arah cakrawala, menuntut perhatian dari keheningan bintang-bintang. "Manusia terlalu serius dalam permainan yang seharusnya ringan" (Watts, 1973), namun kita memilih untuk memahat wajah kita pada wajah semesta, seolah-olah seluruh galaksi hanyalah dekorasi bagi drama kecil yang kita sebut peradaban. Kita adalah noktah yang menolak diabaikan, menolak menjadi sunyi, getaran yang bersikeras menjadi simfoni di tengah ruang hampa yang tak peduli.

Kecenderungan manusia untuk memposisikan dirinya sebagai pusat gravitasi moral dan eksistensial semesta merupakan manifestasi dari narsisme spesies yang akut. Secara psikologis, manusia menciptakan narasi tentang Tuhan dan tujuan hidup sebagai mekanisme pertahanan terhadap existential dread atau kecemasan eksistensial yang muncul dari kesadaran akan kekosongan. "Manusia menciptakan konstruksi ketuhanan yang antropomorfik, yang wataknya diserupakan dengan manusia, untuk memastikan bahwa setiap langkahnya tidak sia-sia dan selalu berada dalam pengawasan kosmis yang penuh perhatian" (Pargament & Lomax, 2013). Kepercayaan bahwa Sang Pencipta hanya sibuk mencatat, menghitung langkah, tingkah, polah, dan detak jantung manusia mencerminkan ketidakmampuan kita untuk menerima realitas bahwa kita mungkin hanyalah "produk sampingan dari hukum termodinamika" yang kompleks di sudut galaksi yang terpencil.

Secara ilmiah, perspektif antroposentris ini terus digugat oleh perkembangan kosmologi modern yang menunjukkan betapa marginalnya posisi manusia. Dalam skala waktu geologis dan astronomis, keberadaan manusia hanyalah sekejap mata yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap struktur makro semesta. Fenomena ini seringkali bertabrakan dengan keinginan manusia untuk memiliki "makna objektif yang diturunkan dari otoritas transenden demi melegitimasi dominasi mereka atas alam" (Grey, 2015). Kita begitu terobsesi pada pekerjaan, kepemilikan, misi, makna, strata, dan aturan sosial, hingga lupa bahwa itu semua hanyalah kesepakatan antar-mikroba, antar-jasad renik yang disebut sebagai manusia, yang mendiami butiran debu yang bernama bumi, yang berputar tanpa henti dalam tarian mekanis yang buta.

Sebagai konklusi, obsesi manusia untuk menjadi pusat cerita semesta adalah upaya sia-sia untuk melawan hukum entropi dan ketiadaan. Kita harus menyadari bahwa keagungan sejati tidak ditemukan dalam pengakuan kosmis yang imajiner, melainkan dalam keberanian untuk menerima bahwa "kehidupan adalah fenomena spontan yang memiliki nilai justru karena ia tidak memiliki tujuan eksternal yang dipaksakan oleh nalar metafisis yang kaku" (Eagleton, 2007). Dengan melepaskan beban menjadi "pusat", manusia justru dapat menemukan kebebasan untuk menjalani hidup dengan lebih ringan, tanpa bayang-bayang penghakiman dari Tuhan yang mereka ciptakan sendiri dalam cermin ketakutan mereka.

Maka, mari kita menari sebagai partikel yang sadar akan ketidakpentingannya, akan kefanaannya. Tak perlu lagi kita memaksa bintang-bintang untuk menyebut-nyebut dan memperbincangkan nama kita, karena keindahan sejati terletak pada kerelaan untuk menjadi tiada dalam keagungan akan keluasan semesta tak bertepi. Tuhan, jika Ia memang melampaui segala definisi, mungkin tidak sedang memegang buku catatan untuk menghakimi langkah kita, melainkan sedang tertawa melihat betapa kerasnya kita berusaha menjadi penting di tengah pesta semesta yang tak memerlukan alasan. Di akhir perjalanan, ketika boneka tanah liat bernama manusia kembali ke tanah, saat debu kembali menjadi debu, yang tersisa bukanlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar kita, melainkan keheningan suci yang menyatukan kita kembali dengan asal-usul cahaya.

Referensi:
• Eagleton, T. (2007). The Meaning of Life: A Very Short Introduction. Oxford University Press.
• Grey, W. (2015). Anthropocentrism and Deep Ecology. Encyclopedia of Bioethics.
• Pargament, K. I., & Lomax, J. W. (2013). Understanding and Addressing Religion among People with Mental Illness. World Psychiatry, 12(1), 26-32.
• Watts, A. (1973). Cloud-Hidden, Whereabouts Unknown: A Mountain Journal. Pantheon Books.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Italic Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis Husin Allahdji
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM