Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 3 April 2026
Dalam keheningan terdalam, ada momen ketika manusia tiba tiba menyadari bahwa seluruh kecemasan, ketakutan, dan perjuangan yang ia pikul selama ini lahir dari satu keyakinan yang keliru: bahwa hidup adalah sesuatu yang ia miliki. Kesadaran itu datang seperti cahaya yang membelah kabut—bahwa kita tidak memiliki kehidupan; padahal kita adalah kehidupan itu sendiri. Literatur spiritual modern menegaskan bahwa identifikasi diri sebagai pemilik hidup menciptakan ilusi keterpisahan dari totalitas kehidupan; yang menjadi akar penderitaan (Harris, 2022). Ketika hidup dianggap sebagai objek yang tidak menyatu dengan dirinya, manusia pun hidup dalam ketakutan akan kehilangan. Namun ketika hidup dipahami sebagai aliran keberadaan universal-total yang menembus segala bentuk, termasuk diri kita, sesuatu dalam diri mulai luluh dan melebar.
Dalam psikologi transpersonal, gagasan bahwa kesadaran adalah satu kesatuan yang mengambil bentuk sementara telah lama dibahas. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman diri sebagai bagian dari kesadaran universal mengurangi kecemasan eksistensial dan meningkatkan kesejahteraan batin (Garcia Romeu et al., 2020). Ketika seseorang berhenti melihat hidup sebagai milik pribadi, ia mulai melihat dirinya sebagai gelombang kecil dalam samudra luas keberadaan. Gelombang itu muncul, berubah bentuk, lalu kembali menyatu—tanpa pernah benar benar hilang.
Psikologi eksistensial juga menegaskan bahwa penderitaan manusia sering muncul dari anggapan bahwa dirinya terpisah dari dunia. Banyak literatur menyatakan bahwa perasaan terpisah dari kehidupan menciptakan kecemasan, ketakutan, dan rasa tidak aman yang mendalam (Yalom, 2019). Ketika hidup dianggap sebagai sesuatu yang harus dijaga, dipertahankan, dan dilindungi, setiap ancaman terasa seperti ancaman terhadap eksistensi itu sendiri. Namun ketika seseorang menyadari bahwa ia adalah bagian dari aliran kehidupan yang lebih besar, yang tak terbatas, ketakutan itu mulai mencair.
Dalam kajian kesadaran, ditemukan bahwa pengalaman kesatuan dengan kehidupan meningkatkan rasa keterhubungan dan makna (Miller, 2021). Kesadaran ini mengubah cara seseorang memandang tubuh dan pikiran. Tubuh menjadi bentuk sementara; pikiran menjadi alat; emosi menjadi gelombang yang datang dan pergi. Yang tetap adalah kehidupan itu sendiri—kesadaran yang menyaksikan segala sesuatu. Dari sini muncul pemahaman bahwa bentuk dapat larut, tetapi kehidupan tidak pernah padam.
Maka, ketika seseorang berhenti berkata “ini hidupku,” dan mulai menyadari bahwa ia adalah bagian dari kehidupan yang lebih luas dan tak terbatas, ia memasuki tahap kedewasaan spiritual yang lebih dalam. Banyak literatur menegaskan bahwa penerimaan terhadap sifat sementara dari bentuk membawa kedamaian batin yang stabil (Walsh, 2020). Hidup tidak lagi menjadi beban yang harus dipertahankan, tetapi arus yang dapat diikuti dengan kepercayaan. Di sinilah kecemasan mereda, dan rasa syukur tumbuh.
Dan pada akhirnya, ketika kesadaran itu benar benar menyentuh hati—bahwa melalui mata kita, kehidupan melihat dirinya; melalui emosi kita, kehidupan merasakan dirinya—maka seluruh cara kita memandang keberadaan berubah. Kita tidak lagi berjalan sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai perwujudan dari kehidupan yang sama yang mengalir melalui rumput, pohon, hewan, dan bintang. Bentuk ini mungkin akan larut, tetapi kehidupan yang mengalir melalui kita tidak pernah hilang. Di titik inilah seseorang akhirnya memahami kesucian keberadaan: bahwa menjadi hidup berarti menjadi bagian dari sesuatu yang tak terhingga, tak terpisahkan, dan tak pernah benar benar berakhir.
Referensi:
• Garcia Romeu, A., Griffiths, R. R., & Johnson, M. W. (2020). Altered consciousness and the experience of unity. Journal of Transpersonal Psychology, 52(1), 45–62.
• Harris, S. (2022). Consciousness and the Illusion of Self. Free Press.
• Miller, L. (2021). Spiritual awareness and psychological integration. Journal of Humanistic Psychology, 61(4), 563–580.
• Walsh, R. (2020). The nature of spiritual maturity. Journal of Transpersonal Studies, 49(2), 112–130.
• Yalom, I. D. (2019). Staring at the Sun: Overcoming the Terror of Death. Jossey Bass.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis Husin Allahdji


Social Header