Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 30 Maret 2026
Di tengah gemuruh dunia modern, manusia berjalan seperti bayang-bayang yang kehilangan tubuhnya sendiri—terus mengejar sesuatu yang tak pernah bisa digenggam, seolah ada lubang halus di dada yang tak dapat ditutup. “Kapitalisme modern bekerja bukan dengan memenuhi kebutuhan, tetapi dengan terus menumbuhkan rasa seolah butuh yang tiada ujung, tiada henti,” sebuah ironi yang membuat kita hidup dalam ilusi kekurangan yang tak berkesudahan (Han, 2015), meski secara faktual sudah berkecukupan, bahkan berkelimpahan. Dalam lanskap ini, kelangkaan bukan lagi fenomena alam, melainkan produk rekayasa psikologis yang dirancang untuk membuat manusia merasa kurang, tertinggal, tidak aman, dan harus terus berlari. “Rasa cukup adalah ancaman bagi roda ekonomi” (Fromm, 1976). Maka sistem ekonomi kapitalistik global pun menabur rasa kekurangan buatan sebagai benih yang tumbuh menjadi kecemasan kolektif.
“Rasa kurang” diciptakan melalui mekanisme pemasaran yang menanamkan ketidakpuasan sebagai identitas baru manusia modern. Studi menunjukkan bahwa industri periklanan bekerja dengan memproduksi narasi bahwa diri kita selalu belum lengkap tanpa produk tertentu (Holt, 2002). Ketidakcukupan menjadi komoditas yang dijual secara masif, membuat manusia terus merasa ada yang hilang dalam dirinya.
“Rasa tertinggal” muncul dari kompetisi sosial yang dipicu oleh logika kapitalisme yang menjadikan status sebagai permainan zero-sum. Media sosial memperkuat kecemasan ini dengan menciptakan ilusi bahwa orang lain selalu lebih berhasil, lebih bahagia, dan lebih cepat mencapai sesuatu (Fuchs, 2021). Ketertinggalan menjadi perasaan yang diproduksi, bukan realitas objektif.
“Rasa tidak aman” dipelihara melalui struktur ekonomi yang membuat manusia bergantung pada pekerjaan, utang, dan konsumsi. Literatur ekonomi politik menunjukkan bahwa ketidakamanan finansial adalah fitur, bukan cacat, dari kapitalisme modern karena ia menjaga manusia tetap produktif dan patuh (Standing, 2016). Ketidakamanan menjadi alat kontrol sosial yang efektif.
“Rasa harus mengejar sesuatu” muncul dari budaya produktivitas yang menempatkan manusia dalam treadmill tanpa akhir. Sistem ini menciptakan hedonic treadmill, di mana kepuasan selalu bersifat sementara dan target selalu bergerak menjauh (Brickman & Campbell, 1971). Manusia terus berlari, tetapi tidak pernah sampai.
Dengan demikian, kelangkaan buatan tidak hanya menyentuh barang, tetapi juga waktu, perhatian, status, dan makna. “Kapitalisme mengubah kelimpahan menjadi kekurangan melalui rekayasa sosial dan psikologis” (Baudrillard, 1998). Sistem ini bertahan bukan karena manusia kekurangan, tetapi karena manusia dibuat untuk percaya bahwa mereka kekurangan.
Namun ada wilayah-wilayah batin yang tidak dapat disentuh oleh logika pasar, ruang-ruang yang tetap liar dan tak bisa dimonopoli oleh mesin ekonomi kapitalisme. “Keheningan, cinta, persahabatan, kreativitas, makna, dan waktu yang kita pilih sendiri adalah bentuk kelimpahan yang tidak dapat dikomodifikasi” (Taylor, 2012). Di dalamnya, manusia menemukan otonomi yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dijual, dan tidak bisa direkayasa. Inilah sumber daya eksistensial yang tetap bebas, bahkan ketika seluruh dunia mencoba mengurungnya dalam angka dan transaksi.
Pada akhirnya, manusia harus bertanya: sampai kapan kita membiarkan diri ditarik oleh bayangan yang kita ciptakan sendiri? Di balik hiruk-pikuk kebutuhan palsu, ada ruang sunyi tempat kita bisa menemukan kembali rasa cukup—sebuah kelimpahan yang tidak dapat dijual, tidak dapat diproduksi, dan tidak dapat dimanipulasi. Di ruang itu, kita mungkin menyadari bahwa kelangkaan terbesar bukanlah barang, waktu, atau status, melainkan keberanian untuk berhenti berlari. Dan ketika keberanian itu muncul, roda yang selama ini memaksa kita bergerak mungkin akhirnya melambat, memberi kita kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang utuh.
Referensi:
• Baudrillard, J. (1998). The Consumer Society: Myths and Structures.
• Brickman, P., & Campbell, D. (1971). Hedonic Relativism and Planning the Good Society.
• Fromm, E. (1976). To Have or To Be?
• Fuchs, C. (2021). Social Media: A Critical Introduction.
• Han, B.-C. (2015). The Burnout Society.
• Holt, D. (2002). Why Do Brands Cause Trouble? A Dialectical Theory of Consumer Culture.
• Standing, G. (2016). The Precariat: The New Dangerous Class.
• Taylor, C. (2012). Sources of the Self: The Making of the Modern Identity.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header