Breaking News

KEYAKINAN BELUM TENTU DIALAMI, PENGALAMAN TAK BUTUH DIYAKINI


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 16 Februari 2026

Di antara kabut pikiran dan cahaya batin, manusia sering terjebak dalam keyakinan yang dibangun oleh kata-kata turun-temurun, bukan oleh pengalaman. Sebagaimana dikatakan oleh para filsuf kontemplatif, “keyakinan adalah buah pikiran yang memerlukan pembenaran, sedangkan pengalaman adalah peristiwa obyektif yang tak membutuhkan pembenaran” (Rahman, 2021). Pembenaran berfungsi untuk mengisi ruang keraguan. Sebagaimana harapan, keyakinan yang juga memiliki ruang keraguan, adalah benteng mental yang dirancang untuk memberi rasa aman. Namun ia sering kali menjauhkan kita dari perjumpaan langsung dengan Yang Ilahi. Dalam ruang sunyi batin, Tuhan tidak hadir sebagai konsep, bukan sebagai nama, melainkan sebagai pengalaman yang menyentuh tanpa kata.

Dalam kajian psikologi agama, ditemukan bahwa “pengalaman spiritual yang otentik sering kali tidak dapat dijelaskan secara verbal, dan justru kehilangan maknanya ketika dipaksa untuk diyakini” (Pargament, 2013). Justru berisiko mengalami penyimpangan makna ketika dipaksa untuk dijelaskan dengan kata-kata, apalagi jika diteruskan dan disebarkan kepada orang lain. Keyakinan bisa diwariskan, dipelajari, bahkan dipaksakan. Namun pengalaman adalah peristiwa yang terjadi apa adanya, tanpa bisa direkayasa. Ketika seseorang mengalami Tuhan, ia tidak lagi membutuhkan pembuktian, ia tidak tertarik lagi pada perdebatan. Ia tidak lagi bertanya, ia tidak lagi membutuhkan label, nama, maupun istilah dalam bahasa tertentu. Ia tidak lagi membutuhkan pengakuan dan validasi dari luar, karena jawabannya telah menyatu dalam dirinya. 

Lebih jauh, para peneliti spiritualitas transpersonal menyatakan bahwa “pengalaman mistik melampaui struktur kognitif dan tidak dapat direduksi menjadi sistem keyakinan” (Vaughan, 2018). Artinya, pengalaman spiritual bukanlah hasil dari proses berpikir, melainkan dari keterbukaan batin yang melampaui logika. Dalam tradisi mistik lintas agama, pengalaman Tuhan sering kali datang dalam keheningan, dalam keterlepasan, dalam ketundukan total terhadap misteri. Seperti kata Lao Tsu, “Ia yang tahu tidak bicara, ia yang bicara tidak tahu”. Keheningan lah yang bisa berbicara.

Karena itu, membangun spiritualitas yang matang bukan berarti memperkuat keyakinan, tetapi memperdalam pengalaman. Keyakinan bisa berubah, bisa runtuh, bisa diganti. Namun pengalaman yang otentik akan tetap hidup dalam jiwa, bahkan ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskannya. “Spiritualitas yang berakar pada pengalaman langsung lebih tahan terhadap guncangan ideologis dan konflik antar keyakinan” (Smith, 2019).

Pada akhirnya, Tuhan tidak hadir dalam definisi, tidak dalam nama, tetapi dalam aliran batin yang mengenali kehadiran-Nya tanpa syarat. Mereka yang telah mengalami tidak lagi sibuk meyakini. Mereka diam, namun penuh. Mereka tidak berdebat, namun menggetarkan. Sebab pengalaman adalah cahaya yang tidak membutuhkan lentera. Di titik ini, kita belajar bahwa yang paling dalam tidak selalu bisa dijelaskan, dan yang paling nyata tidak perlu diyakini, cukup dialami. 


Referensi:
• Pargament, K. (2013). Psychology of Religion and Coping. APA Press.
• Rahman, A. (2021). Pengalaman Spiritual dan Struktur Keyakinan. Jurnal Psikologi Religi.
• Smith, J. (2019). Transcendence and Human Experience. Journal of Spirituality Studies.
• Vaughan, F. (2018). Transpersonal Development and Spiritual Maturity. Journal of Transpersonal Psychology.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM