Breaking News

Melacak Jejak Makam Bentara Blang Kuta Meuse Yang Diteliti Oleh Peneliti Internasional dari Perancis


Kawasan Aceh adalah kawasan yang penuh dengan  sejarah kebesaran masa lalu yang terkenal di dunia. Hal ini membuat banyak peneliti asing yang tertarik datang ke Aceh. Salah satu kawasan situs makam bersejarah yang diteliti oleh peneliti asing asal Perancis adalah Makam Bentara Blang Di Kuta Meuse Kuta Blang Bireuen. 

"Makam ini juga tercatat dalam Arsip Belanda De Vink pada tahun 1911 M. Artinya kawasan ini sudah cukup lama dikenal", ujar Ketua SILA Muammar Al Farisi.

Peneliti Perancis Ludvik Kallus dan Claude Guillot datang ke Aceh tahun 2006, dan meneliti makam dengan nisan berbentuk indah ini. Mereka menemukan berbagai Inkripsi di nisan yang  bertuliskan ayat Al Qur'an dan tulisan do'a terhadap pemilik makam. Inskripsi ini menandakan bahwa makam ini merupakam makam tokoh penting era kesultanan Aceh Darussalam. 

Apalagi makam ini memiliki Batu Badan, yang  biasanya dimiliki oleh keluarga Kerajaan atau petinggi Kesultanan Aceh Darussalam. Hasil bacaan Inkripsi ini kemudian dimuat di majalah Internasional Archipel tentang Ilmu sejarah dan Budaya.  

"Hal ini membuat data tentang nisan penting ini dapat diakses secara online oleh peminat sejarah di seluruh dunia", terang Ketua SILA.

Pada Era Kesultanan Aceh Darussalam, gelar Bentara umumnya digunakan oleh para Ulebalang Aceh, yang dalam bahasa Melayu disebut Hulubalang. Hulubalang artinya adalah Pahlawan. Sama dengan di Aceh, karena para Ulebalang Kesultanan Aceh adalah para pahlawan yang melawan Imperialisme asing.

Di masa Kesultanan Aceh, Sultan memiliki Wazir yang mengurus bagian pertanian Blang atau Sawah. Wazir Ini membawahi pejabat yang bergelar Panglima Meugoe, yang kemudian membawahi Bentara Blang, yang membantu terlaksananya pertanian dengan baik di daerah masing-masing. Bentara Blang ada juga yang menjabat menjadi Ulebalang Wilayah Kesultanan Aceh Darussalam. 

Setelah dilakukan penelitian, ditemukan bahwa Makam Bentara Blang Kuta Meuse ini berada di  Krueng Panjoe Kecamatan Kuta Blang Bireuen. Dari hasil penelitian terlihat komplek makam telah terjaga dengan baik. Inkripsi Nisan dan motif masih terlihat terjaga. 

Nisan ini memperlihatkan bentuk dan periode awal Abad 18 M, yaitu periode zaman Dinasti Syarief dan Alaidin Maharaja Lela Melayu. 

Tokoh Bentara Blang Ini berjasa dalam membuat lumbung pangan dan padi dikawasan Peusangan dan Kutablang pada zamannya. Apalagi saat Itu Aceh juga sedang menghadapi ancaman pengaruh Imperialisme asing. 

Bentara Blang berperan penting membangun persawahan, dan  menjaga agar kawasan Blang atau Huma atau Umong atau sawah tetap terjaga dengan baik.

Berikut bunyi Inkripsi nisan yang telah berhasil dibaca oleh Ludvik Kallus dan Claude Guillot : 

"Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian  pula) malaikat karena takut kepada-Nya. (Surat Ar Ra'du Ayat 13 )"

Inkripsi Al Qur'an di nisan ini menarik, karena baru nisan Bentara Blang saja yang  ditemukan menuliskan surat Ar Ra'du Ayat 13 di nisan, tentang guruh dan malaikat yang bertasbih karena takut kepada Allah. 

Dalam penulisan nisan ini tersirat menandakan bahwasanya Guruh dan Malaikat pun bertasbih karena takut kepada Allah, apalagi pemilik makam . Penulisan Ayat Al Qur'an ini juga menunjukkan bahwa Bentara Blang adalah orang yang shalih dan takut kepada Allah SWT. 

Inkripsi selanjutnya lebih menarik bertuliskan Surat Al Fath ayat 1 :

"Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata"

Penulisan Inkripsi di nisan ini menandakan tokoh Bentara Blang Kuta Meuse adalah seorang Pahlawan dan Pejuang Aceh pada masanya. Karena Inkripsi Surat Al Fath Ayat 1 biasanya ditemukan di makam para pahlawan besar Kesultanan Aceh Darussalam.

Inkripsi menarik selanjutnya, setelah Ayat Al Qur'an dilanjutkan dengan doa : 

"Melalui doa kepada-Mu atas nama kami (berikanlah kepada kami) pahala yang besar!
Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul Allah.
Tuhanku! Bukalah hati kami dan luaskanlah tempat kembali kepada-Nya!
Ya Tuhanku! Jadikan surga sebagai tempat peristirahatannya dan berikanlah rahmat-Mu kepadanya... dan basuhlah dia (dengan air) dan salju yang dingin"

Setelah Banjir dahsyat yang melanda Aceh, dan banyak Blang atau sawah hilang tertimbun lumpur banjir, sudah selayaknyalah agar langkah mengembalikan pertanian kembali seperti semula. 

Kisah Bentara Blang yang membangun persawahan Aceh zaman Kesultanan Aceh dapat menjadi kearifan lokal, yang dapat ditiru untuk mengembalikan sawah yang tertimbun banjir dan lumpur di Aceh. Agar kebutuhan pangan masyarakat di Aceh dapat selalu terjaga dan terpenuhi dengan baik.

Narasumber : Mawardi Usman Atceh
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM