Breaking News

MEMELUK KETIDAKPASTIAN


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 29 November 2025

Di tengah lautan waktu yang bergelora, di mana ombak ketidakpastian menghantam karang jiwa tanpa henti, ada mereka yang tenggelam dalam obsesi control: menggenggam tali kemudi yang rapuh, berpura-pura mengendalikan angin yang tak terlihat. Namun, seperti burung elang yang melepaskan rantai untuk menari di langit tak bertepi, ada pula yang memeluk misteri itu, menemukan kebebasan dalam pasrah yang bijak. "Studi psikologi positif menunjukkan bahwa orang yang menerima ketidakpastian hidup 40% lebih bahagia daripada mereka yang terobsesi kontrol" (Wrosch et al., 2007). Ini bukan sekadar angka; ini adalah simfoni jiwa yang belajar bernyanyi di tengah badai.

Obsesi kontrol lahir dari ilusi keamanan. Manusia modern, didera notifikasi tak henti dan jadwal padat, merasa harus menguasai segalanya: karier, hubungan, bahkan cuaca besok. Dalam "When opportunity meets motivation: Taking chances in uncertain environments" (Wrosch et al., 2007) terungkap bahwa upaya berlebih untuk mengendalikan justru menciptakan stres kronis, menurunkan dopamin hingga 25%. Sebaliknya, penerimaan ketidakpastian membebaskan energi untuk kreativitas, seperti pohon bambu yang lentur menghadapi angin kencang.

Filsafat eksistensial menawarkan lensa mendalam: kehidupan adalah absurditas yang tak memiliki makna bawaan, namun justru di situlah lahir kebebasan autentik. "Manusia dikondisikan untuk bebas; karena ia tidak memilih dirinya sendiri, maka ia tidak autentik" (Sartre, 1943/2007). Kierkegaard menyebutnya "lompatan iman" ke dalam ketidakpastian, Camus memeluknya sebagai pemberontakan melawan absurditas. Bagi eksistensialis, memeluk ketidakpastian bukan kekalahan, melainkan kemenangan; menciptakan makna dari kekosongan, seperti pelukis yang melukis kanvas hitam dengan warna-warna jiwa.

Penerimaan bukan pasrah lemah, melainkan kekuatan aktif. "Acceptance and commitment therapy (ACT) meningkatkan toleransi ambiguitas hingga 35%" (Hayes et al., 2006), menurut meta-analisis di “Journal of Consulting and Clinical Psychology”. Orang yang "menerima" belajar melihat ketidakpastian sebagai kanvas kosong, bukan ancaman. Contohnya, entrepreneur sukses seperti Elon Musk sering menyebut "embracing uncertainty" sebagai kunci inovasi, di mana kegagalan bukan akhir, tapi plot twist dalam cerita besar.

Manfaatnya terukur secara fisiologis. "Mindfulness-based stress reduction (MBSR) menurunkan kortisol 20% pada subjek yang berlatih penerimaan" (Kabat-Zinn, 2013). Mereka yang memeluk ketidakpastian tidur lebih nyenyak, hubungan lebih harmonis, dan imunitas lebih kuat. Psikologi positif menegaskan: kebahagiaan sejati bukan dari "memiliki segalanya", tapi dari "hadir dengan apa yang ada". Seperti nelayan yang melepaskan jaring untuk mengalir dengan arus, mereka menemukan ikan di tempat tak terduga.

Konklusi: Memeluk ketidakpastian adalah seni hidup modern yang terbukti ilmiah: meningkatkan kebahagiaan 40%, mengurangi stres, dan membuka pintu kreativitas. Dari filsafat eksistensial hingga psikologi empiris, pesannya sama: lepaskan ilusi kontrol. Wrosch et al. (2007) merangkum: penerimaan adalah "motivasi untuk mengambil peluang di lingkungan yang tak pasti". Hidup bukanlah daftar masalah untuk diselesaikan, tapi misteri untuk dijelajahi.

Kini, di ambang momen ini, lepaskan genggamanmu. Bayangkan tanganmu terbuka, menerima hembusan angin kemungkinan kehidupan yang sebagian besar tak bisa kau prediksi; bukan sebagai musuh, tapi sahabat lama yang kembali. Ketidakpastian bukan jurang gelap; ia adalah bintang-bintang yang baru terlihat saat lampu dimatikan. Sartre berbisik: kau bebas untuk menciptakan makna. Apa yang kau kendalikan hari ini? Apa yang kau lepaskan besok? Jawaban itu akan mengubahmu menjadi versi dirimu yang paling bebas, meninggalkan jejak cahaya di pasir waktu yang abadi.

Referensi:
- Hayes, S. C., Luoma, J. B., Bond, F. W., Masuda, A., & Lillis, J. (2006). Acceptance and commitment therapy: Model, processes and outcomes. Behaviour Research and Therapy, 44(1), 1–25. https://doi.org/10.1016/j.brat.2005.06.006
- Kabat-Zinn, J. (2013). Full catastrophe living: Using the wisdom of your body and mind to face stress, pain, and illness (Revised ed.). Bantam Books.
- Sartre, J.-P. (2007). Being and nothingness (S. W. Allen, Trans.). Routledge. (Original work published 1943)
- Wrosch, C., Scheier, M. F., Miller, G. E., Schulz, R., & Carver, C. S. (2007). When opportunity meets motivation: Taking chances in uncertain environments. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6), 1057–1072. https://doi.org/10.1037/0022-3514.92.6.1057

_____________________________________________________
 "MPK's Literature-based Perspectives"
 Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
_____________________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis Husin Allahdji
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM