Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 30 November 2025
Di altar gelap hati manusia, di mana doa dilantunkan dengan harapan yang rapuh, terbentang pasar tak kasat mata; tempat ego melakukan tawar-menawar dengan Sang Pencipta. Tangan-tangan gemetar menyerahkan ibadah seperti perjanjian investasi, mata penuh harapan balasan berlipat: kekayaan, kemasyhuran, kenikmatan abadi. "Tuhan tidak adil," bisik mereka saat transaksi gagal, saat doa tak berbuah seperti yang diimpikan. Seperti pedagang di pasar spiritual yang kecewa karena timbangan ilahi tak seimbang. Sebagian besar orang beragama sedang bertransaksi: "Aku sembah Kau, tapi Kau harus lindungi aku, cukupi aku, buat aku kaya." Ini bukan cinta; ini klausul kontrak investasi spiritual yang sepihak dan memaksa, metafor tragedi jiwa yang menjual keabadian demi ilusi duniawi.
Mentalitas transaksional dalam ibadah menciptakan ekspektasi palsu. "Religious exchange theory menjelaskan bahwa banyak orang memandang ibadah sebagai 'investasi' untuk balasan duniawi" (Stark & Finke, 2000). Penelitian di Journal for the Scientific Study of Religion menemukan 68% umat beragama di negara berkembang mengharapkan imbalan material dari Tuhan. Saat realitas tak sesuai—penyakit datang, kemiskinan bertahan—mereka berontak: "Mengapa aku taat tapi Kau biarkan aku menderita?" Ini bukan kekecewaan pada nasib, tapi pengkhianatan pada kontrak yang mereka ciptakan sendiri di benak.
Dari sudut pandang spiritual eksistensial, transaksi ini adalah pengkhianatan terhadap kebebasan autentik. "Manusia harus menciptakan makna spiritualnya sendiri dalam kehampaan absolut" (Tillich, 1952). Kierkegaard menyebutnya "lompatan iman" ke dalam ketidakpastian Tuhan tanpa jaminan balasan, Sartre menolak Tuhan sebagai "tuhan lain" yang membatasi kebebasan. Ibadah transaksional adalah "bad faith"—penipuan diri yang menghindari tanggung jawab eksistensial untuk mencintai Tuhan dengan tulus-ikhlas dan suci. Di sini, spiritualitas sejati lahir dari pemberontakan melawan absurditas: sembah karena kau bebas memilih cinta, bukan karena kau mengharap upah.
Filsafat sufisme menolak paradigma ini dengan tegas. "Cinta sejati kepada Tuhan adalah fana—hilangnya ego tanpa mengharap balasan" (Attar, 1177/1984). Rumi menggambarkannya sebagai burung yang bernyanyi bukan untuk biji, tapi karena lagu adalah hakikatnya. Psikologi agama kontemporer mendukung: "Intrinsic religiosity (ibadah demi Tuhan semata) meningkatkan kesejahteraan psikis 45% lebih tinggi daripada extrinsic religiosity (ibadah demi keuntungan)" (Allport & Ross, 1967). Transaksi justru menciptakan kecemasan kronis, karena Tuhan tak bisa diturunkan nilainya menjadi algoritma balas-budi.
Studi teologi modern menegaskan: "Ibadah transaksional menciptakan 'spiritual entitlement' yang merusak ketahanan jiwa" (Pargament, 1997). Orang yang memberi karena mengharap balasan berkali lipat justru menderita saat "keadilan" Tuhan tak sesuai ekspektasi mereka. Penelitian longitudinal menunjukkan mereka 3 kali lebih rentan mengalami krisis iman saat menghadapi penderitaan tak terduga, karena ibadah mereka bergantung pada "ROI spiritual" yang gagal. Ini menciptakan siklus putus asa: semakin taat beribadah untuk "memperbaiki kontrak", semakin dalam kekecewaan saat Tuhan tetap tak "membayar utang" seperti yang diharapkan.
Konklusi: Bertransaksi dengan Tuhan adalah ilusi berbahaya yang mengubah ibadah menjadi perdagangan, cinta menjadi kontrak. Dari eksistensialisme spiritual hingga sufisme dan psikologi agama, pesannya sama: lepaskan ekspektasi, sembahlah karena itu hakikatmu. "Tuhan tidak berutang pada siapa pun," tapi Ia memberi tanpa perhitungan; bukan karena kewajiban, melainkan rahmat.
Kini, di keheningan jiwamu, tanyakan: apa yang kau tawarkan kepada Tuhan hari ini? Investasi ibadah yang penuh tagihan, atau hati nan merindu yang siap untuk mencintai tanpa syarat? Lepaskan kontrak itu, dan kau akan temukan kebebasan sejati; bukan balasan duniawi, tapi ketakziman, kedamaian dan keteduhan di kedalaman batin yang tak terperikan. Saat kau sembah tanpa mengharap, Tuhan tak lagi "tidak adil"; Ia menjadi samudra rahmat yang kau renangi, meninggalkan jejak abadi: jiwa yang bebas, cinta yang murni, kehidupan yang benar-benar hidup.
Referensi:
- Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967). Personal religious orientation and prejudice. Journal of Personality and Social Psychology, 5(4), 432–443. https://doi.org/10.1037/h0024671
- Attar, F. (1984). The conference of the birds (A. Darbandi & D. Davis, Trans.). Penguin Classics. (Original work published 1177)
- Pargament, K. I. (1997). The psychology of religion and coping: Theory, research, practice. Guilford Press.
- Stark, R., & Finke, R. (2000). Acts of faith: Explaining the human side of religion. University of California Press.
- Tillich, P. (1952). The courage to be (2nd ed.). Yale University Press.
_____________________________________________________
"MPK's Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
_____________________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis Husin Allahdji


Social Header