Oleh: Makin Perdana Kusuma – Queensland, 15 Februari 2026.
Estimasi durasi: 4 menit.
Dalam arus panjang sejarah manusia, keyakinan sering berdiri seperti gunung: kokoh, tak tergoyahkan, seolah abadi. Namun bila kita menelusuri jejak peradaban, gunung itu ternyata bergerak, berubah bentuk, bahkan runtuh. Tuhan-tuhan yang dulu diagungkan dengan upacara megah kini hanya tinggal nama dalam buku sejarah. Dari Mesir kuno hingga Romawi, dari Yunani hingga Mesopotamia, dari Aztec hingga Maya—semua pernah memiliki Tuhan yang bagi mereka adalah pusat semesta, yang bagi mereka saat itu adalah kebenaran yang nyata. Namun “keyakinan yang dianggap mutlak pada satu masa dapat berubah menjadi mitos pada masa berikutnya” (Harris, 2018). Para antropolog menegaskan bahwa “konsep ketuhanan selalu mengikuti dinamika budaya dan struktur sosial masyarakatnya” (Eller, 2020). Di sinilah kita belajar bahwa keyakinan manusia sering kali lebih rapuh daripada yang kita kira. Sebagaimana bersama harapan selalu ada ruang keraguan, demikian juga dengan keyakinan. Sebab, jika Tuhan-tuhan itu adalah kebenaran absolut, maka ia tidak perlu diajarkan untuk diyakini, cukup diterima dan dialami.
Sejarah Mesir kuno memperlihatkan bagaimana Amun, Ra, dan Osiris pernah menjadi pusat kosmos spiritual. Namun ketika kekuasaan bergeser, “struktur keagamaan pun berubah mengikuti politik dan budaya yang dominan” (Assmann, 2019). Hal serupa terjadi di Yunani kuno, ketika Zeus, Athena, dan Apollo bukan hanya dewa, tetapi fondasi moral dan sosial. Kini mereka dipelajari sebagai mitologi. Para sejarawan agama mencatat bahwa “pergeseran konsep ketuhanan adalah fenomena universal dalam perjalanan peradaban manusia” (Bellah, 2011). Keyakinan yang dulu dianggap absolut kini menjadi artefak.
Di Mesopotamia, dewa-dewa seperti Enlil dan Ishtar pernah mengatur ritme kehidupan masyarakat. Di Romawi, Jupiter dan Mars menjadi simbol kekuasaan. Di Amerika Tengah, suku Aztec dan Maya memuja Quetzalcoatl dan Kukulkan sebagai pengatur kosmos. Namun peradaban berganti, dan “ketuhanan pun diredefinisi sesuai kebutuhan zaman” (Sandstrom, 2020). Bahkan dalam tradisi Abrahamik yang kini dominan, para ahli sejarah agama menunjukkan bahwa “konsep ketuhanan mengalami evolusi teologis yang panjang, tidak muncul dalam bentuk final sejak awal” (Armstrong, 2014). Dengan kata lain, tidak ada keyakinan yang lahir dalam bentuk yang kita kenal sekarang.
Karena itu, terlalu yakin bahwa keyakinan kita adalah satu-satunya kebenaran mutlak dapat menjadi jebakan psikologis. Para peneliti kognisi agama menegaskan bahwa “keyakinan yang absolut sering kali menutup pintu dialog dan menghambat perkembangan spiritual” (Whitehouse, 2019). Kematangan spiritual justru muncul ketika seseorang mampu melihat bahwa keyakinan adalah jembatan, bukan tembok; proses, bukan titik akhir. Sejarah mengajarkan bahwa manusia selalu menafsirkan ulang yang transenden sesuai konteks zamannya.
Pada akhirnya, kerendahan hati adalah fondasi spiritualitas yang paling dalam. Bila Tuhan-tuhan besar dari masa lalu bisa berganti, maka keyakinan kita hari ini tentang Tuhan pun sangat mungkin akan dibaca dan dilabeli berbeda oleh generasi mendatang. Ini bukan ajakan untuk meragukan iman, tetapi untuk merendahkan hati di hadapan misteri yang jauh lebih besar dari bahasa, budaya, dan sejarah manusia. Keyakinan yang matang bukanlah keyakinan yang keras, tetapi yang lentur; bukan yang menutup, tetapi yang membuka. Sebab yang abadi bukanlah nama Tuhan, melainkan pencarian manusia terhadap Yang Tak Terkatakan, Tak Tergambarkan, Tak Terbatas, dan Tak Terbingkai oleh waktu.
Referensi:
• Armstrong, K. (2014). The History of God. Vintage Books.
• Assmann, J. (2019). Egyptian Religion and Cultural Memory. Journal of Ancient Civilizations.
• Bellah, R. (2011). Religion in Human Evolution. Harvard University Press.
• Eller, J. (2020). Introducing Anthropology of Religion. Routledge.
• Harris, S. (2018). The Evolution of Belief Systems. Journal of Comparative Religion.
• Sandstrom, A. (2020). Mesoamerican Religious Traditions. Journal of Latin American Studies.
• Whitehouse, H. (2019). Cognitive Foundations of Religious Belief. Annual Review of Anthropology.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis Husin Allahdji


Social Header