Breaking News

KEARIFAN LOKAL DALAM ARUS GLOBAL: RELEVANSI “NEM SA” KI AGENG SURYOMENTARAM BAGI “SUSTAINABILITY MOVEMENT”


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 1 Januari 2026

Dalam denyut sunyi kehidupan, manusia kerap tersesat oleh desir keinginan yang tak bertepi—seakan dunia adalah ruang tanpa batas yang harus ditaklukkan, sumberdaya alam seperti bisa dihabiskan begitu saja demi kepuasan. Namun Ki Ageng Suryomentaram menghadirkan sebuah cermin bening, tempat manusia dapat melihat dirinya tanpa topeng, tanpa ambisi yang membutakan. Melalui ajaran “sabutuhe” (bertindak sesuai kebutuhan nyata, bukan keinginan), “saperlune” (melakukan sesuatu sebatas yang diperlukan), “sacukupe” (merasa cukup dan tidak berlebihan), “sabenere” (bertindak sesuai kebenaran dan kelayakan), “samesthine” (menjalani hidup sebagaimana mestinya, selaras dengan alam), dan “sakepenake” (menemukan kenyamanan batin tanpa memaksakan keadaan), ia mengingatkan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari penumpukan, melainkan dari pelepasan; bukan dari mengejar, melainkan dari memahami. Ajaran ini, sebagaimana dikutip dalam literatur tentang Kawruh Begja, menegaskan bahwa “supaya hidup tentram jalani hidup Enam Sa (“NEM SA”): sabutuhe, sacukupe, saperlune, sabenere, samestine, sakepenake”. Prinsip ini sejalan dengan gagasan psikologi kontemporer bahwa “kesejahteraan psikologis berakar pada kemampuan mengelola keinginan dan ekspektasi diri sendiri” (Ryff, 2014).

Prinsip “sabutuhe” dan “saperlune” mengajarkan bahwa tindakan manusia seharusnya berlandaskan kebutuhan, bukan keinginan yang dipicu oleh budaya konsumtif. Ide pokok ini selaras dengan konsep keberlanjutan (sustainability) yang menekankan pengurangan konsumsi berlebih sebagai langkah menjaga keseimbangan ekologis, merawat daya dukung bumi terhadap kehidupan di atasnya. Komisi Brundtland PBB mendefinisikan keberlanjutan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri” (WCED, 1987), sebuah prinsip yang secara filosofis sangat dekat dengan ajaran Suryomentaram tentang menakar kebutuhan secara jernih dan tidak berlebihan. Dengan kata lain, “sabutuhe” adalah bentuk praksis dari etika antargenerasi yang menjadi inti definisi Brundtland. Seperti dinyatakan dalam literatur keberlanjutan, “konsumsi berlebihan adalah akar degradasi lingkungan global” (Steffen et al., 2015). Ajaran Suryomentaram memperkuat gagasan tersebut dengan menempatkan manusia sebagai subjek yang harus mampu menakar dirinya sendiri agar tidak melampaui batas alam.

Sementara itu, “sacukupe” dan “sabenere” menegaskan pentingnya rasa cukup dan keselarasan dengan realitas. Dalam konteks gerakan keberlanjutan, prinsip ini sejalan dengan pendekatan degrowth yang menekankan bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Literatur mutakhir menyebutkan bahwa “kesejahteraan masyarakat dapat meningkat meski pertumbuhan ekonomi ditekan, selama distribusi dan kualitas hidup diperbaiki” (Kallis, 2018). Dengan demikian, ajaran Suryomentaram bukan hanya relevan secara spiritual, tetapi juga memiliki resonansi kuat dalam diskursus ilmiah modern.

Jika ditarik ke dalam konteks global, prinsip “samesthine” dan “sakepenake” mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan hukum alam dan ritme kehidupan. Ini sejalan dengan pendekatan ekopsikologi yang menyatakan bahwa “kesehatan manusia terikat erat dengan kesehatan ekosistem tempat ia hidup” (Roszak, 1992). Ajaran Suryomentaram, yang berakar pada kearifan lokal Jawa, ternyata memiliki jangkauan universal yang mampu menjembatani spiritualitas, psikologi, dan keberlanjutan. Ia menawarkan kerangka hidup yang tidak hanya menenangkan batin, tetapi juga menyehatkan bumi.

Pada akhirnya, ajaran Ki Ageng Suryomentaram adalah undangan untuk pulang—pulang kepada diri yang jernih, kepada bumi yang menunggu untuk dihargai, kepada hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh. Dalam dunia yang berlari terlalu cepat, ia mengajak kita berjalan pelan, menakar langkah, dan mendengar bisikan alam yang selama ini tenggelam oleh hiruk-pikuk ambisi manusia. Jelas sekali, bahwa keberlanjutan bukanlah sekadar gerakan institusional global, melainkan perjalanan batin setiap manusia sebagai anggota dan peserta alam semesta: perjalanan untuk menemukan kembali batas, keseimbangan, dan kebijaksanaan yang telah lama banyak ditinggalkan. Dan, inti dari gerakan keberlanjutan yang sejati adalah kesadaran dan pengendalian diri. Di sanalah, dalam kesederhanaan yang penuh makna, manusia dan bumi dapat kembali menari bersama, berseri kembali, dan lestari.

Referensi:
• Titian. (2024). Filosofi Kawruh Begja Ki Ageng Suryomentaram.
• Ryff, C. D. (2014). Psychological well-being revisited: Advances in the science and practice of eudaimonia. Psychotherapy and Psychosomatics.
• Steffen, W., et al. (2015). Planetary boundaries: Guiding human development on a changing planet. Science.
• Kallis, G. (2018). Degrowth. New York: Routledge.
• Roszak, T. (1992). The Voice of the Earth: An Exploration of Ecopsychology. Phanes Press.
• World Commission on Environment and Development. (1987). Our Common Future. Oxford University Press.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis Husin Allahdji
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM