Breaking News

SISI GELAP TUHAN


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma  –  Queensland, 11 Februari 2026

Dalam ruang batin manusia yang paling sunyi, Carl Jung pernah berbisik tentang sesuatu yang jarang disentuh oleh teologi maupun psikologi: the dark side of God. Sebuah gagasan yang mengguncang, seperti kilat yang membelah langit malam—bahwa di balik cahaya ilahi, ada bayangan yang tak bisa diabaikan. Jung menyebut bahwa “setiap citra tentang Tuhan yang hidup dalam jiwa manusia selalu mengandung sisi terang dan sisi gelap” (Jung, 1951). Dalam metafora yang lebih puitis, Tuhan dalam kesadaran manusia bukan hanya matahari yang menyinari, tetapi juga malam yang menyembunyikan misteri terdalam eksistensi. Di titik inilah manusia dihadapkan pada paradoks: bahwa keilahian yang kita sembah juga mencerminkan kedalaman psikis yang belum kita pahami. Musibah adalah berkah yang belum terselami. Penderitaan adalah jalan pertumbuhan yang belum dimengerti. Keterbatasan pikiran kolektif manusia menciptakan pemahaman yang biner dan dikotomis terhadap peristiwa kosmik; baik-buruk, menguntungkan-merugikan.

Dalam psikologi analitik, Jung menegaskan bahwa bayangan bukanlah kejahatan, melainkan bagian dari totalitas psikis yang belum disadari. Ia menulis bahwa “ketidaksadaran kolektif membawa pola-pola arketipal yang mencakup potensi destruktif dan kreatif sekaligus” (Jung, 1959). Ketika manusia memproyeksikan arketipe (cetak biru psikologis yang diwariskan secara kolektif dan muncul dalam mimpi, mitos, simbol, dan perilaku) Ketuhanan ke dalam kesadaran, sisi gelap itu ikut terbawa. Bukan karena Tuhan gelap, tetapi karena kesadaran manusia belum mampu menampung keseluruhan makna keilahian. Dengan demikian, the dark side of God adalah cermin dari kedalaman jiwa manusia sendiri—sebuah refleksi bahwa kita belum selesai memahami siapa diri kita.

Penelitian kontemporer dalam psikologi agama menunjukkan bahwa pengalaman religius sering kali mengandung ambivalensi. “Pengalaman spiritual dapat memunculkan rasa kagum sekaligus ketakutan, kedamaian sekaligus kegelisahan” (Hood et al., 2018). Ambivalensi ini bukan tanda kelemahan iman, tetapi bukti bahwa pengalaman keagamaan menyentuh wilayah psikis yang kompleks. Dalam konteks ini, sisi gelap Tuhan bukanlah ancaman, melainkan undangan untuk memahami dinamika batin yang lebih dalam.

Beberapa ahli teologi modern juga mengakui bahwa konsep keilahian tidak pernah sepenuhnya steril dari paradoks. “Dalam tradisi mistik, Tuhan dipahami sebagai misteri yang melampaui kategori baik dan buruk” (McGinn, 2006). Artinya, sisi gelap bukanlah sifat Tuhan, tetapi keterbatasan bahasa manusia dalam menggambarkan sesuatu yang tak terkatakan. Ketika manusia mencoba memaknai Tuhan, bayangan muncul bukan dari Tuhan, tetapi dari ketidakmampuan kita menangkap totalitas-Nya.

Kesimpulannya, gagasan Jung tentang the dark side of God bukanlah kritik terhadap Tuhan, melainkan refleksi tentang struktur psikis manusia. “Apa yang kita sebut gelap sering kali adalah bagian dari diri kita yang belum kita pahami” (Jung, 1951). Dengan memahami bayangan ini, manusia dapat mendekati pengalaman spiritual dengan kedewasaan yang lebih utuh—tanpa menolak misteri, tanpa menakuti diri sendiri, dan tanpa memutihkan apa yang sebenarnya penuh warna.

Pada akhirnya, sisi gelap Tuhan adalah undangan untuk melihat ke dalam diri. Seperti malam yang memeluk bumi sebelum fajar, bayangan itu mengajarkan bahwa cahaya tidak pernah berdiri sendiri. Dalam keheningan batin, kita belajar bahwa memahami Tuhan berarti juga memahami kedalaman jiwa kita sendiri. Dan mungkin, justru dalam keberanian menatap bayangan itulah manusia menemukan cahaya yang lebih jernih, lebih lembut, dan lebih sejati.

Referensi:
• Jung, C. G. (1951). Aion: Researches into the Phenomenology of the Self.
• Jung, C. G. (1959). The Archetypes and the Collective Unconscious.
• Hood, R., Hill, P., & Spilka, B. (2018). The Psychology of Religion: An Empirical Approach.
• McGinn, B. (2006). The Foundations of Mysticism.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives” 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis Husin Allahdji
© Copyright 2022 - ANALISARAKYAT.COM