Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 12 Februari 2026
Di balik gemuruh doa dan nyanyian pujian, ada sunyi yang tak terucapkan. Di sana, Tuhan bukan sekadar nama yang dituliskan, bukan sekadar keyakinan yang ditanamkan, melainkan kehadiran yang menembus batas kata dan konsep. Seperti cahaya yang tidak bisa digenggam, Tuhan bukan milik satu kelompok, satu agama, atau satu tafsir. “Keyakinan buta terhadap Tuhan dapat melahirkan eksklusifitas dan permusuhan terhadap yang berbeda” (Armstrong, 2009). Dalam lanskap batin, mengenali dan mengalami Tuhan adalah perjalanan melampaui nama, menuju makna yang hidup dalam setiap napas semesta.
Psikologi transpersonal menyebut bahwa pengalaman spiritual yang otentik tidak lahir dari dogma, tetapi dari keterhubungan langsung dengan Realitas Terdalam. “Pengalaman mistik melampaui batas-batas agama formal dan membuka ruang kesadaran universal” (Grof, 2008). Ketika Tuhan diyakini secara buta, dan hanya dikenali sebagai nama, ia menjadi simbol yang bisa diperebutkan. Tetapi ketika Tuhan dikenali dan dialami sebagai Kehadiran, ia menjadi Ruang Kecerdasan tak terbatas yang memeluk, melingkupi, mencakupi dan meresapi semua mahluk; segala sesuatu dan segala yang bukan sesuatu. Dalam pengalaman ini, Tuhan bukan objek kepercayaan, melainkan subjek yang hidup dalam kesadaran.
Sosiologi agama menunjukkan bahwa fanatisme sering tumbuh dari identifikasi sempit terhadap Tuhan sebagai milik eksklusif kelompok tertentu. “Semakin sempit definisi Tuhan, semakin besar potensi konflik antar kelompok” (Berger, 1990). Ketika Tuhan diklaim sebagai milik satu golongan, maka yang lain menjadi ancaman. Padahal, Tuhan yang sejati tidak pernah terkurung dalam batas-batas identitas. Ia hadir dalam angin, dalam cahaya, dalam diam, dan dalam tangis semua manusia.
Filsafat eksistensial menegaskan bahwa mengenali Tuhan berarti mengenali diri sendiri. “Pengalaman spiritual yang mendalam adalah perjumpaan antara kesadaran manusia dan misteri semesta” (Tillich, 1957). Dalam pengalaman ini, Tuhan bukanlah entitas yang jauh, tetapi kedalaman yang menyatu dengan keberadaan. Ketika manusia berhenti meyakini dan mulai mengalami, maka Tuhan tidak lagi menjadi alat pembeda, melainkan jembatan pemersatu.
Kesimpulannya, berhenti meyakini Tuhan bukan berarti menolak-Nya, tetapi mengundang diri untuk mengenali dan mengalami-Nya secara utuh. “Tuhan semesta alam tidak bisa dikurung dalam nama, simbol, atau dogma” (Nasr, 2002). Dengan mengalami Tuhan, manusia melampaui eksklusifitas dan membuka diri terhadap spiritualitas yang inklusif, penuh kasih, dan menyatu dengan semesta.
Pada akhirnya, Tuhan bukanlah milik satu lidah bahasa, satu kitab, atau satu ritual. Ia adalah denyut kehidupan yang mengalir dalam semua makhluk. Dalam refleksi terdalam, kita belajar bahwa mengenali Tuhan adalah mengenali cinta yang tidak membeda-bedakan, cahaya yang tidak memilih, dan keheningan takzim yang memeluk semua. Dan mungkin, dalam keberanian untuk mengalami-Nya, kita menemukan bahwa Tuhan tidak sedang menunggu untuk diyakini, tetapi untuk dialami dalam keutuhan jiwa yang bebas dan terbuka.
Referensi:
• Armstrong, K. (2009). The Case for God.
• Grof, S. (2008). The Ultimate Journey: Consciousness and the Mystery of Death.
• Berger, P. L. (1990). The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion.
• Tillich, P. (1957). Dynamics of Faith.
• Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis Husin Allahdji


Social Header