Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 13 Februari 2026
Sejak kecil, kita dididik untuk memandang Tuhan sebagai sosok yang jauh, duduk di singgasana langit yang tak terjangkau. Kita diajari berdoa seperti berbicara kepada pihak lain, berharap suara kita menembus awan dan diterima oleh entitas yang berada di luar diri. Kita diajari cara berdoa yang begitu transaksional dengan Pihak lain; karena merasa telah taat, berbuat baik, berderma, lalu menuntut upah. Segala tindakan baik pun menjadi seperti uang suap pada Tuhan, yang menuntut keuntungan balik berkali lipat, bukan merupakan ungkapan kerinduan akan penyatuan dengan-Nya. “Konsep Tuhan yang transenden sering kali membuat manusia merasa terpisah dari sumber spiritualnya sendiri” (Nasr, 2002). Dalam lanskap praktik keagaman, kita tumbuh dengan jarak dari Tuhan, bukan kedekatan. Kita sibuk melakukan ritual fisik ibadah, mengenal berbagai nama-Nya, menghafalkan sifat-sifat-Nya, tetapi tidak mengalami kehadiran-Nya. Kita hafal doa-doa dan kalimat pujian untuk-Nya, kita hafal dan menguasai teks-teks suci tentang-Nya, tetapi tak pernah dan tak tahu bagaimana merasakan dan mengalami Tuhan.
Psikologi transpersonal menyoroti bahwa pengalaman spiritual yang otentik lahir bukan dari menghafal teks suci, pengulangan kata, mantra, pujian, maupun ritual, tetapi dari keterhubungan langsung dengan kesadaran ilahi. “Spiritualitas bukanlah sistem kepercayaan, melainkan pengalaman langsung terhadap Realitas Terdalam” (Grof, 2008). Ketika Tuhan hanya menjadi objek kepercayaan, kita kehilangan ruang untuk mengalami-Nya sebagai subjek yang hidup dalam diri. Kita menjadi asing bagi Tuhan, dan Tuhan menjadi asing bagi kita—meski kita menyebut nama-Nya setiap hari.
Dalam teologi mistik, Tuhan tidak dipahami sebagai sosok yang jauh, tetapi sebagai kehadiran yang menyatu dengan semesta. “Tuhan bukanlah entitas yang terpisah, melainkan Realitas yang mengalir dalam segala sesuatu” (McGinn, 2006). Namun, pendidikan keagamaan kita sering kali menekankan keterjarakan dari-Nya, bukan kedekatan, bukan kesatuan. Kita diajari untuk takut, bukan untuk mengenal. Kita diajari untuk tunduk, bukan untuk menyatu. Akibatnya, doa menjadi formalitas, bukan perjumpaan. Ibadah menjadi rutinitas, bukan pengalaman.
Filsafat eksistensial menegaskan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengalami Tuhan secara langsung, tanpa perantara. “Keilahian bukanlah konsep, melainkan kedalaman eksistensi yang dapat dialami” (Tillich, 1957). Ketika kita berhenti memandang Tuhan sebagai pihak lain, kita mulai menemukan bahwa Tuhan tidak pernah jauh. Ia hadir dalam napas, dalam cahaya, dalam keheningan, dan dalam kesadaran yang jernih. Tuhan bukanlah tujuan, tetapi ruang kecerdasan tempat kita, segala sesuatu, dan segala yang bukan sesuatu berada.
Kesimpulannya, menjauhkan Tuhan dari pengalaman manusia adalah bentuk pemiskinan spiritual. Hidup menjadi serba terikat, tercambuki, terkendali oleh aturan dari luar diri, bukan tertuntun oleh Kesadaran dari dalam. “Ketika Tuhan hanya diyakini dan tidak dialami, maka spiritualitas menjadi kering dan terasing” (Armstrong, 2009). Kita perlu membebaskan diri dari warisan jarak, dan mulai membangun spiritualitas yang hidup—yang tidak hanya mengenal nama Tuhan, tetapi juga merasakan kehadiran-Nya dalam diri dan semesta.
Pada akhirnya, Tuhan tidak pernah duduk jauh di langit. Ia adalah Denyut yang mengalir dalam darah, Cahaya yang menyentuh mata, dan Keheningan yang memeluk jiwa. Mengalami Tuhan bukanlah tidak mungkin, bukanlah dosa, melainkan panggilan alami-kodrati manusia. Dan, dalam keberanian dan keterbukaan untuk mendekat, kita akan menemukan bahwa Tuhan tidak sedang menunggu di langit—Ia telah lama tinggal di dalam diri kita. Yang diperlukan hanyalah mengungkap, menyingkap, menanggalkan dan meninggalkan pandangan dan kegiatan lama yang menjaraki dan menjauhkan kita dari-Nya.
Referensi:
• Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity.
• Grof, S. (2008). The Ultimate Journey: Consciousness and the Mystery of Death.
• McGinn, B. (2006). The Foundations of Mysticism.
• Tillich, P. (1957). Dynamics of Faith.
• Armstrong, K. (2009). The Case for God.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header