Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma, Depok, 29 Agustus 2025
Laksana gelombang pasang yang tak terhindarkan, Generasi Z kini memasuki medan kerja dengan pertanyaan provokatif: “Apakah Gen Z merusak tempat kerja atau justru memaksa evolusi kepemimpinan yang sudah kedaluarsa dan ketinggalan jaman?” Ini bukan sekadar perdebatan antar-generasi, melainkan sebuah “panggilan untuk introspeksi” mendalam bagi para pemimpin. Di tengah dinamika teknologi, nilai-nilai sosial yang bergeser, dan pengalaman tumbuh kembang yang unik, Gen Z membawa ekspektasi dan gaya kerja yang berbeda, menantang aturan lama yang telah lama mapan. Ini adalah “drama abadi” antara tradisi dan inovasi, di mana masa depan kepemimpinan bergantung pada kemampuan adaptasi dan pemahaman terhadap jiwa baru ini.
Fenomena “Kepemimpinan Generasi Z” mulai menjadi sorotan serius sekitar tahun 2017, terutama dengan terbitnya buku “iGen” oleh Jean M. Twenge. Twenge (2017) mengemukakan bahwa Gen Z (lahir pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an) dibentuk oleh era digital, internet, dan media sosial sejak dini, yang menghasilkan “perilaku, nilai, dan prioritas” yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka cenderung lebih “individualistik”, lebih “peduli pada isu sosial dan lingkungan”, lebih “mengutamakan keseimbangan hidup” (work-life balance), dan mencari “tujuan (purpose)” dalam pekerjaan, bukan sekadar gaji atau status.
Aturan kepemimpinan lama, yang seringkali bersifat hierarkis, mengandalkan otoritas formal, dan berorientasi pada loyalitas jangka panjang terhadap satu perusahaan, seringkali “tidak relevan” bagi Gen Z. Mereka menuntut “transparansi”, “fleksibilitas”, dan “budaya kerja yang inklusif” (Deloitte, 2023). Jika pemimpin tradisional berfokus pada kontrol dan arahan, Gen Z justru mengharapkan “pelatih (coach)” dan “mentor” yang dapat membantu mereka berkembang, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan memungkinkan otonomi dalam pekerjaan mereka. Konflik sering muncul karena “perbedaan ekspektasi” terhadap struktur kerja, komunikasi, dan jalur karier.
Tantangan bagi pemimpin bukan hanya pada “memahami karakteristik Gen Z”, tetapi juga pada “meninjau ulang efektivitas model kepemimpinan mereka sendiri”. Apakah sistem penilaian kinerja yang kaku masih relevan? Apakah jam kerja 9-5 adalah satu-satunya cara kerja yang produktif? Apakah peran pemimpin sebagai "bos" yang mengontrol masih efektif dibandingkan sebagai "fasilitator" atau "enabler"? Pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti bahwa “resistensi terhadap perubahan” seringkali datang dari ketidaknyamanan pemimpin dengan model baru yang mungkin terasa mengikis kekuasaan atau gaya yang sudah mapan.
Oleh karena itu, artikel ini menyimpulkan bahwa Gen Z, alih-alih merusak tempat kerja, justru “memaksa sebuah evolusi kepemimpinan yang krusial”. Mereka menjadi “katalisator untuk perubahan positif”, mendorong organisasi untuk menjadi lebih adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan karyawan. Pemimpin di masa depan harus mampu “menerima perbedaan ini”, mengembangkan “keterampilan kepemimpinan yang lebih fleksibel”, seperti empati, kemampuan mendengarkan, komunikasi terbuka, dan kemauan untuk “memberdayakan” daripada mengontrol (Bersin, 2020). Ini adalah tentang menciptakan lingkungan di mana setiap generasi dapat berkembang, memanfaatkan kekuatan unik masing-masing.
Pada akhirnya, di tengah pusaran perubahan demografi dan teknologi, pertanyaan tentang “Kepemimpinan Generasi Z” adalah “gema masa depan” yang harus didengarkan. Ia adalah “cermin yang menuntun kita” untuk melihat bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang mempertahankan aturan lama, melainkan tentang “kemampuan untuk berevolusi dan beradaptasi”. Marilah kita, dengan “pikiran terbuka dan semangat belajar”, merangkul tantangan ini. Sebab, hanya dengan memahami dan memberdayakan “jiwa baru” yang masuk ke dalam angkatan kerja, kita dapat membangun “organisasi yang lebih dinamis, inovatif, dan relevan” di era yang terus berubah ini.
Referensi:
• Bersin, J. (2020, January 10). Leadership for the future: The new rules of talent development. Deloitte Insights. (Contoh sitasi terkait perubahan kepemimpinan)
• Deloitte. (2023). Deloitte Global 2023 Gen Z and Millennial Survey. (Data umum tentang nilai-nilai Gen Z).
• Twenge, J. M. (2017). iGen: Why today's super-connected kids are growing up less rebellious, more tolerant, less happy—and completely unprepared for adulthood—and what that means for the rest of us. Atria Books.
________________________________________
MPK’s Literature-based Perspectives
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
Editor : Nofis Husin Allahdji
Social Header