Luhut: Pemerintah Tidak Akan Goyah Hadapi Kemungkinan Boikot Uni Eropa
Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan saat berada di hadapan sekitar dua ribu orang petani sawit dari seluruh Indonesia dalam Jambore Petani Sawit Nasional di Medan, Sumatera Utara, Kamis (04/04/2019)/Foto: Maritim.

Analisarakyat.com, Medan (Sumut) - Medan, Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan mengatakan pemerintah akan melakukan apapun untuk tidak akan goyah terkait industri sawit.

“Siapapun yang menghambat perkembangan industri sawit Indonesia akan kita lawan. Karena industri sawit ini perannya sangat signifikan dalam menurunkan angka kemiskinan, juga dalam penyerapan tenaga kerja,” ujar Menko Luhut di hadapan sekitar dua ribu orang petani sawit dari seluruh Indonesia dalam Jambore Petani Sawit Nasional di Medan, Sumatera Utara, Kamis (04-04-2019).

Menko Luhut mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo berpesan agar para petani sawit diberikan perhatian khusus, “Beliau mengingatkan saya soal kelapa sawit. “Kelapa sawit ini merupakan perhatian nasional, kita menjaga agar harganya jangan sampai drop lagi, akan kita pertahankan di antara 600-900 USD per ton,” kata Menko Luhut.

Menurutnya jika Uni Eropa jadi mengimplementasikan boikot tersebut ada beberapa opsi yang akan dilakukan Indonesia.

“Tentu kita akan melawan lewat pengadilan di Eropa dan World Trade Organization (WTO), keluar dari Paris Agreement juga menjadi salah satu opsinya,” jelas Menko Luhut.

Ia mengatakan sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia yang harus diperjuangkan, namun Menko Luhut menekankan pentingnya melakukan pengelolaan berkelanjutan.

“Bapak, ibu jangan menanam sawit semua, harus ada enclave untuk menjaga keseimbangan. Kita sudah melakukan hilirisasi industri sawit, lalu moratorium sudah dilakukan pada 14 juta hektar lahan, saat ini kita hanya melakukan replanting saja dengan bibit unggul,” kata Menko Luhut.

Diskriminasi

Menko Luhut melanjutkan perjalanannya ke Kabupaten Labuhan Batu. Pada kunjungannya ini, Menko Luhut disambut Plt Bupati Andi Suhaimi Dalimunthe dan ribuan masyarakat Labuhan Batu. Dalam sambutannya, Bupati mengucap terima kasih atas kunjungan Menko Luhut, karena sejak orde baru, Menko Luhut adalah Menteri pertama yang berkunjung ke kabupaten tersebut.

Kepada masyarakat yang menyambutnya, Menko Luhut memastikan kembali bahwa pemerintah akan bekerja maksimal menghadapi rencana boikot Uni Eropa. Kebanyakan masyarakat Labuhan Batu juga bergantung pada sawit, kabupaten ini menjadi penghasil sawit utama di PTPN III.

“Kita bekerja keras menghadapi tekanan, diskriminasi dari beberapa negara terhadap pemerintah dalam menangani kelapa sawit ini. Jadi kita semua harus kompak menghadapi ini,” katanya.

Bandara

Di Labuhan Batu ini pula Menko Luhut mengunjungi rencana pembangunan Bandar Udara (Bandara) di Kabupaten Labuhan Batu yang berlokasi di lahan PTPN 3 Aek Nabara.

“Kalau bisa kami usahakan akhir tahun ini proses pembangunan sudah bisa dilakukan. Mungkin berproses sekitar 10 tahun, kalau bisa jet jenis 737 bisa mendarat di sini,” ujar Menko Luhut kepada media.

Menurut Bupati Andi rencana pembangunan Bandara ini tujuannya adalah untuk mempermudah transportasi dari Labuhan Batu ke daerah lain yang jaraknya berjauhan dan menghabiskan waktu yang lama bila ditempuh dengan jalan darat. Jarak Labuhan Batu ke Medan adalah delapan jam, jika ditempuh dengan perjalanan darat. Dari Labuhan Batu, Menko Luhut menuju Kabupaten Labuhan Batu Selatan yang berjarak 50 kilometer.

Di hadapan ribuan warga masyarakat Labuhan Batu Selatan Menko Luhut mengatakan ada kemungkinan juga untuk dibangun bandara untuk pesawat perintis yang menghubungkan kabupaten ini dengan kota-kota besar di dekatnya.

Bupati Labuhan Batu Selatan (Labusel), Wildan Aswan Tanjung menyebutkan saat ini ia masih melakukan sejumlah persiapan termasuk prosedur perundang-undangan terkait rencana pembangunan bandara ini. (Red/Maritim)

Posting Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.